Believe in Love

TITLE :: Believe in Love

AUTHOR :: Choi Sun Li a.k.a Sasha

RATE :: PG 15

 

Cast ::

Kim Jong Woon a.k.a Yesung SUJU

Choi Sun Li a.k.a Author *eksis selalu XD* *PLAK*

Han Je Yoo a.k.a Tisha

Park Jung Soo a.k.a Leeteuk SUJU

Jung Min Chan a.k.a Marsha

Lee Dong Hae a.k.a Donghae SUJU

 

Aaaaa.. akhirnya ni FF jadi juga.. setelah melalu perombakan besar-besaran.. ampe gatau mau nulis apaan lagi… dan akhirnya jadi… tadinya mau buat ultah nae yeobo Yesung, tapi udah kadung kelamaan, yaudah gajadi.. akhirnya kado Yesung malah artwork <– nah loh curcol

Yaudah daripada kelamaan basa nanti keburu basi, yuk mari dimulai ceritanyaaa..

 

Aku menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Yap, ini bulan pertamaku pindah ke kota Seoul. Terlalu banyak masalah di kampungku dulu. Aku menopang daguku sambil memperhatikan luar jendela.

 

Tok Tok Tok

 

“Nugu?” tanyaku pada orang yang mengetuk. Pintu terbuka dan ternyata itu ahjumma ku.

“Sun Li-ya, ayo sarapan.” Kata ahjumma ku. Aku beranjak dari tempat tidurku. Dan segera menuju ruang makan. Di ruang makan sudah tampak ahjussi dengan anak laki-lakinya yang masih kecil. Ya, aku memutuskan untuk pindah dan tinggal di rumah ahjummaku Han Je Yoo, yeobonya Park Jung Soo, dan anak mereka Jun Ki. Sungguh betapa sakit hatiku memperhatikan keluarga bahagianya. Aku duduk dan memakan sarapanku dengan tatapan kosong.

“noona…” panggil Jun Ki padaku

“wae?” jawabku datar. Dia memberikan sendoknya padaku. Pertanda minta disuapin. Akhirnya aku makan sambil menyuapinya. Bocah itu makan sambil senyum-senyum. Aku segera menghabiskan makananku. Dan setelah yakin piringku kosong, aku mengembalikan sendok itu pada Jun Ki.

“mianhae Jun Ki-ya, aku harus bergegas ke sekolah, kau makan sendiri saja ya. Arraseo?” tanyaku padanya. Dia hanya mengangguk menurut sambil tersenyum. Betapa murah senyum bocah ini. Tentu saja, dia kan dibesarkan di tengah keluarga yang bahagia.

 

Aku segera membereskan buku-buku dan dengan langkah cepat aku keluar rumah. Di luar tampak yeoja yang sudah menungguku.

“Annyeong…” katanya sambil melambai padaku.

“Min Chan-ah sudah kubilang kau tak perlu menungguku setiap pagi. Kau kan bisa berangkat dengan namja chingumu.” Jelasku padanya.

“Gwenchana.. lagipula rumah Dong Hae-ya kan jauh. Ujung dan ujung dengan rumahku. Lebih baik juga aku berangkat denganmu saja. Toh kita bertetangga.” Jawabnya kemudian. aku hanya menghela napas. Oke, hanya dialah yang sulit untuk kuajak berdebat.

“Kkaja.” Kataku padanya. Kami berjalan berdua ke sekolah. Dia tetanggaku Jung Min Chan. Seperti yang terlihat, dia adalah orang yang periang dan bisa bergaul dengan siapa saja. Dia satu-satunya temanku di kota ini. Hanya dengannya aku dapat mengobrol. Dan terkadang hanya dialah yang mengerti perkataanku.

 

@ Class

 

“Min Chan-ah” panggil Dong Hae dari luar kelas. Min Chan dengan segera menghampirinya. Dan mereka berdua mengobrol diluar. Aku yang tadinya sedang mengobrol dengan Min Chan sekarang hanya sendiri dan diam. Aku memandang keluar jendela untuk kesekian kalinya. Aku masih tidak mengerti apakah keputusanku untuk pindah kemari dapat dibilang benar.

 

FLASHBACK

 

PRANG ! BRAK ! KROMPYANG !

Aiissh suara itu terdengar lagi. Aku membuka pintuku sedikit. Pelan-pelan aku keluar kamar, dan mengintip dari balik tembok. Umma appaku bertengkar lagi. Semakin hari pertengkaran mereka makin sering terjadi. Appaku, orangnya ringan tangan. Kalau sudah marah mungkin saja tubuhmu atau wajahmu akan jadi korban. Dan appa tidak pandang bulu dalam memukul orang. Sedangkan umma, dia seakan tidak peduli padaku. Bahkan melihatku saja enggan. Coba bayangkan kalau kau hidup di keluarga seperti itu. Entah kemana keluarga bahagia yang selama ini. Mengetahui selama ini mereka hanya memakai topeng, hatiku seketika remuk karena merasa dikhianati. Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk pindah ke Seoul. Karena ketidak sengajaan aku menemukan alamat ahjummaku. Pertama kali aku datang, aku selalu bersikap dingin. Karakterku yang tidak mudah percaya pada orang terbentuk karena orangtuaku. Aku terlalu takut untuk merasakan rasa sakit, sehingga sulit untukku percaya pada orang. Tapi ahjumma membuatku seperti memiliki keluarga yang sebenarnya. Dia menerimaku dengan baik. Walaupun di sudut hatiku aku masih takut untuk mempercayai orang.

 

FLASHBACK END

 

“Ya! Sun Li-ya! Aiissh kau bengong lagi.” Panggil Min Chan sambil melambaikan tangannya di depanku. Aku tersadar dari lamunanku.

“Wae?” tanyaku padanya. Kemudian dia mengatupkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.

“Sun Li-ya! Kumohon! Minggu ini kau pergi bersamaku ke Lotte World ya??” pintanya kemudian. mulutku langsung menganga.

“Mwo? Buat apa? Kenapa kau tidak pergi dengan Dong Hae saja?” tanyaku kemudian.

“Justru itu! Tiketnya baru bisa diskon kalau untuk lebih dari 2 orang. Ayolaaaah.” Rengeknya. Coba lihat siapa yang bisa menolak kalau dia merengek seperti itu.

“Jadi kau dan Dong Hae mengincar diskonnya?” tanyaku kemudian. dia mengangguk sambil tersenyum. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ayolaaah Sun Li-ya.. ya ? ya ?” rengeknya lagi sambil menarik-narik lengan bajuku.

“Heeeh.. baiklah kalau begitu…” jawabku sambil menghela napasku. Tak sanggup menolak rengekannya.

“Yey yey! Gomawo Sun Li-ya! I love u full !” serunya sambil memelukku. Aku hanya mengangguk saja menanggapinya.

 

 

Sunday ~

 

“noona…” aku menoleh ke arah suara, terlihat Jun Ki sedang menongolkan kepalanya dari balik pintu. ”Wae?” tanyaku padanya sambil menggantungkan headsetku di leher dan menyelipkan ipod di saku celanaku.

“Ayo kita main” katanya dengan penuh harap sambil memegang bola. Aku berjongkok berusaha menyamakan tinggiku dengannya.

“Mianhae, aku harus pergi dengan temanku hari ini. Kau main dengan ahjumma atau ahjussi saja oke?” kataku padanya sambil mengelus-elus kepalanya.

“oke.” Jawabnya sambil memberi tanda ‘oke’ dengan jarinya. Dan kemudian berlari keluar kamarku dan memanggil appanya. Aku kemudian mengambil tasku dan berjalan keluar. Tampak Min Chan sudah menunggu. Pakaian yang dikenakannya jauh bertolak belakang denganku. Gayaku yang terkesan cuek ini sungguh kontras jika disejajarkan dengannya.

“Kkaja!!” katanya Girang sambil berjalan merangkul tanganku. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan ini jadi aku diam saja.

“Hey kalau kau bergaya seperti ini, kau tampak seperti namja.” Katanya kemudian.

“Gurae?” jawabku kemudian. dia hanya mengangguk.

“Jadi pacarku saja… hahahaha” katanya sambil tertawa. Aku hanya menyunggingkan senyum kecil.

“Kulaporkan Dong Hae baru tahu.” Kataku kemudian.

“Eh! Jangan Jangan!! Yee mending sama Dong Hae kali. Aku kan normal!” jawabnya kemudian dengan tampang yang dibuat panik. Aku tertawa kecil. Apa kubilang, hanya dengannya aku dapat mengobrol.

 

Lotte World

 

“Dong Hae-ya !”panggil Min Chan pada Dong Hae yang sedang berdiri di dekat tiang. Min Chan berlari menghampiri namja chingunya. Aku hanya mengekor padanya.

“Mianhae. Apa kami berdua terlambat?” Tanya Min Chan pada Dong Hae.

“Ani, kami juga baru sampai.” Jawab Dong Hae. Chakkaman, apa tadi dia bilang ‘kami’ ? aku terus memutar otakku berusaha mencerna kata-kata Dong Hae. Sementara Min Chan dan Dong Hae hanya mengobrol sambil bersenda gurau.

“Mianhae, sepertinya aku jadi orang terkahir yang sampai” kata seseorang. Aku menoleh ke arah sumber suara. Dan tampak namja yang tinggi dengan rambut nya yang menurutku khas.

“Omo… Dasar kau ke WC saja lama.” Jawab Dong hae protes pada kawannya.

“Ohh… Jadi ini yeoja chingumu. Kim Jong Woon imnida.” Katanya memperkenalkan diri pada Min Chan.

“Min Chan imnida… dan ini temanku…” kata Min Chan memperkenalkan diri. Dan saat menunjukku, aku sedang terbengong dengan wajah datar memperhatikan namja itu.

“Aiissh.. orang ini. Ya!! Kau bengong lagi??” kata Min Chan yang gemas pada sifatku yang suka bengong. Dan dia menoyor kepalaku untuk menyadarkanku.

“Eh? Ohh.. Choi Sun Li imnida,” jawabku kemudian.

“baiklah, kalau begitu kami akan membeli tiket dulu.” Kata Dong Hae sambil menarik Jong Woon untuk ikut mengantri. Terdengar disitu Jong Woon berusaha protes karena dia paling malas untuk ikut mengantri. Aku kemudian menyeret Min Chan ke tempat yang agak jauh dari namja-namja itu.

“Heh. Kau tidak bilang kalau Dong Hae mengajak temannya!” kataku protes.

“He?? Jangan salahkan aku! Aku aja tidak tahu kalau dia mengajak temannya.” Jawabnya. Aku menghela napas berat. Yasudahlah. Sudah terjadi ini. Kemudian Dong Hae melambaikan tangannya pada Min Chan dan menyuruh kami berdua mendatanginya karena tiket sudah didapatkan.

 

Di dalam, tentu saja kami berempat terpecah jadi 2 grup. Min Chan dan Dong Hae dalam sekejap sudah menghilang. Dan tinggalah aku dengan Jong Woon.

“Kau tidak ingin main?” Tanya Jong Woon kemudian.

“Terserah…” jawabku singkat.

“Kalau begitu ayo.” Katanya sambil menarik tanganku. Aku menarik tanganku dari genggamannya.

“aku bisa jalan sendiri.” Kataku kemudian. kami berdua berjalan. Dan naik semua wahana.

 

Beberapa menit kemudian. aku sepertinya kesasar di suatu tempat. Entah sejak kapan tiba-tiba aku jadi sendirian.

“Ahh… sial” aku menggerutu sambil berusaha mencari ponselku. Dan ABRACADABRA!! Aku meninggalkan ponselku dirumah.

“Haiiish! Bagus sekali.” Keluhku kesal. Langit mulai mengjingga. Sepertinya aku harus pulang. Tapi aku tidak tahu dimana aku sekarang. Kemudian aku duduk di bangku yang ada di depan mataku. Memakai headsetku dan menyalakan ipodku. Dan kemudian tampak bayangan seseorang di depan mataku. Aku mendongakkan kepalanya. Dan kulihat Jong Woon disana. Berdiri dengan napas terengah-engah dan keringat mengucur.

“hh.. ketemu juga akhirnya..” katanya dengan napas masih tersenggal-senggal. Aku terdiam menatapnya. Gelagatnya seakan dia mencariku dari tadi.

“Ayo pulang. Min Chan sangat khawatir padamu.” Katanya sambil sekali lagi menggenggam tanganku. Aku melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Aiissh.. orang ini.” Katanya menggerutu dan kemudian menggenggam lagi tanganku. Kali ini sedikit labih kuat dan aku tidak melepaskannya. Aku menatapnya tajam.

“Tak usah menatap begitu. Kau bisa-bisa hilang lagi kalau tidak kupegang,” jawabnya kemudian berjalan sambil mengenggam tanganku. Apa-apaan sih orang ini. Jangan sok baik padaku.

 

Di Pintu keluar tampak Min Chan dengan wajah super duper khawatirnya. Dan ketika mendapati kalau aku sudah ditemukan, reflek dia memelukku.

“Pabo Pabo Pabo!! Kemana saja kau hah??” katanya sambil memukuliku dengan gulungan pamflet.

“aw!! Mi-mianhae Min Chan-ah! Aku kesasar. Kau sendiri tahu aku buta arah.” Kataku berusaha menghentikan penyiksaan darinya.

“Pabo! Pabo! Jangan bikin khawatir dong!” kata Min Chan masih terus memarahiku. Aku terus menerus minta maaf. Untung Dong Hae menghentikan Min Chan kalau tidak dia akan terus memukuliku dengan gulungan pamflet itu. Akhirnya setelah Dong Hae berusaha menenangkan Min Chan, kami berdua pulang ke rumah. Di jalan, masih saja Min Chan berusaha memukuliku lagi dengan gulungan pamflet keparat itu.

 

 

Tomorrow after school~

 

Aku sedang membaca majalah di toko buku.

“Omo~ konser mereka memang selalu hebat.” Kataku dalam hati. Aku membalik-balikkan halaman majalah.

“Ya!” kata seseorang menepuk pundakku. Aku kaget, dan membalikkan badanku.

“Oh Tuhan jangan sampai orang itu mau menghipnotis aku.” Pikirku. Dan TADADAAAM~ Jong Woon lah yang menepuk pundakku. ”Hahaha. Benar ternyata itu kau. Kita bertemu lagi rupanya.” Katanya sambil menyunggingkan senyum yang membuat aku bengong untuk kesekian kalinya.

“Y-Ya! Astagaa.. kau ini memang hobi bengong ya?” katanya sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar. Kemudian menaruh majalah itu dan pergi. Jong Woon mendengus kesal dan mengejarku keluar toko itu.

“Hey! Hey tunggu dulu.” Jong Woon memanggilku dan menarik tanganku. Aku menepisnya.

“Aigo.. kau ini kenapa sih. dingin sekali. Aku hanya ingin kenal lebih dekat denganmu. Tapi kelakuanmu itu seakan kau tidak ingin didekati. Kau ini kenapa sih?” Tanya Jong Woon dengan nada kesal padaku. Aku terdiam. Sekelebat kenangan masa laluku yang menyakitkan tiba-tiba mendatangi pikiranku.aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

“Bu-bukan urusanmu!” jawabku sambil berlari tanpa menyadari kalau lampu sudah merah.

 

TIIIIIIIIINN !!!

 

Melihat mobil melaju ke arahku, aku memejamkan mataku. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tahu. Apa aku sudah mati? Tapi tidak, aku seakan mendarat di tempat yang nyata. Aku membuka mataku. Ternyata sesaat sebelum mobil itu menabrakku, Jong Woon menarik tanganku dan dengan segera memelukku untuk menjauhi jalan.

“Pabo!! Kau mau mati hah??” katanya memarahiku. Aku terdiam, tak menyangka dia akan menyelematkanku. Aku terdiam menatap wajahnya.

“Gwenchana?” Tanya Jong Woon sambil memeriksa diriku. Aku berdiri dengan segera.

“A-aku tidak apa-apa.” Merapikan sedikit bajuku dan berjalan pulang kerumah. Tapi kemudian dia menarik tanganku.

“Mwo?” tanyaku kemudian. percuma berusaha melepaskannya juga. Dia sudah tahu kalau aku harus digenggam kuat-kuat.

“aku khawatir tahu. Orang ceroboh macam kau kalau jalan sendirian tuh bahaya.” Jawabnya kemudian.

“Kkaja” katanya sambil menarik tanganku. Aiihh apa-apaan sih namja ini.

 

2 month later

 

Oke, sudah 2 bulan sejak pertama kali aku bertemu Jong Woon, dan sejak saat itu, dia selalu menghubungiku. Entah mulai dari mengantarku ke rumah atau menelpon dan mengsmsku. Sampai-sampai ahjumma dan ahjussi mulai penasaran dan meledekku terus-terusan. Hari ini hari Sabtu, Min Chan datang menginap ke kamarku.

“Ya! Apa pendapatmu tentang Kim Jong Woon? hmm?” Tanya nya sambil mengarahkan permen lollipopnya yang seakan dibuat menjadi mic.

“Biasa saja.” Jawabku datar.

“Mwo?? Sudah 2 bulan dia berusaha mendekatimu tapi kau masih bisa bilang biasa saja??” kata Min Chan protes.

“Lalu kau mau aku jawab apa?” tanyaku kemudian.

“Aiisshh.. orang ini.. poor Jong Woon oppa…” jawab Min Chan sambil mengelus-elus dadanya.

“Ayolahh Sun Li-ya~ masa kau tidak punya perasaan apa-apa padanya??” Tanya Min Chan yang berusaha meyakinkan perasaanku. Aku kembali terdiam.

“Mollaseyo…” jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke arah jendela.

“Ah ! Kau memalingkan wajah! Sudahlah jujur saja kau menyukainya kan??” kata Min Chan terus mendesakku.

“Aniyo! Mana mungkin begitu!” jawabku berusaha mengelak.

“aiiishh… dasar kau hati baja…” kata Min Chan dengan wajah yang dibuat manyun. Aku tertawa kecil menatapnya. Kulemparkan bantal ke arah wajahnya.

“Haha.. tak usah berwajah seperti itu dasar cumi cumi.” Kataku sambil tersenyum.

“Untunglah kau bertemu Jong Woon oppa.” Kata Min Chan kemudian.

“Mworago?” tanyaku padanya.

“Sejak bertemu dengannya, kau jadi lebih membuka hatimu. Kau juga jadi lebih banyak tersenyum. Itu lebih baik kan?” jawabnya kemudian. aku tidak bisa mengelak dari perkataan itu. Karena semua yang dikatakannya itu benar. Terkadang sifat aneh namja itu bisa membuatku tertawa.

 

Sunday ~

 

Aku berjalan menyusuri rak rak CD. Mencari CD artis kesukaanku.

“Ahh ini dia.” Aku berusaha mengambil tapi tanganku bersentuhan dengan orang lain. Aku menoleh, dan teng teng… Jong Woon ada disitu (lagi). Kenapa dia selalu bertebaran dimana-mana??

“Ohh, ini ambil saja.” Katanya kemudian memberikan CD itu.

“A-ani, kau saja.” Jawabku kemudian

“Ohh.. baiklah kalau begitu.” Jawabnya kemudian menuju kasir dan membayarnya. Dalam hatiku aku mengutuki diriku yang menyerahkan CD yang tinggal satu itu. Aiihh sial.

“Sun Li-ya, kkaja.” Katanya sambil menarikku keluar toko CD.

 

Aku berjalan dalam diam. Masih lesu karena tidak berhasil mendapatkan CD itu.

“Oh iya!” katanya kemudian. aku mendongak menatapnya lesu.

“Ini.” Katanya sambil menyerahkan CD yang tadi dibelinya. Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti apa maksudnya.

“Aku sejak awal berniat membelikannya untukmu karena tahu kau suka artis itu.” Katanya menjelaskan. Aku tidak habis pikir. Kenapa namja ini begitu baik padaku. Kenapa dia memperlakukan aku seperti itu. Dan kenapa juga dia membuatku merasakan perasaan seperti ini.

“Sun Li-ya? Astaga dia melamun lagi. Kebiasaan…” kata Jong Woon menghela napas.

“Go-Gomawo.” Kataku terpatah-patah dan pelan. Jong Woon yang tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku. Langsung menoleh kaget.

“M-Mwo? Coba ulangi?” katanya sambil mendekatkan kupingnya ke wajahku. Aku mendekatkan wajahku ke kupingnya.menarik napas sedikit dan…

“tidak ada pengulangan.” Kataku tepat di telinganya. Dia mendengus kesal. Mengacak-acak rambutku. Aku hanya tertawa kecil. Sungguh dia benar-benar mengubah hidupku.

Memang tidak dapat kupungkiri kalau aku memang jatuh cinta pada namja ini. Tapi hatiku masih takut karena trauma akan pengkhianatan.

 

 

Sun Li room~

 

Aku memandang keluar jendela. Entah kenapa hanya dengan cara seperti itu aku dapat menenangkan diriku.

“Sun Li-ya…” ahjummaku masuk dan duduk di sebelahku.

“Waeyo ahjumma?” tanyaku padanya.

“Kau yakin tidak ingin menceritakan padaku siapa namja itu?” Tanya ahjumma dengan wajah penasarannya. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya.

“Ahh.. ayolaaah.. siapa namja yang berhasil membuatmu jadi sering tersenyum seperti itu?” Tanya ahjumma yang sepertinya makin penasaran. Alhasil kuceritakanlah semuanya.

“Lalu, kau tidak ingin menyampaikan perasaanmu?” Tanya ahjumma kemudian.

“Ani…” jawabku singkat. Berat rasanya mengatakan itu.

“Wae? Apa karena kau masih trauma? Aiishh, Sun Li-ya, dia tidak sama dengan orangtuamu. Kau tidak boleh terlalu sering terbelenggu masa lalu. Arraseo?” kata ahjumma menasihatiku. Aku hanya berusaha mencerna kata-katanya.

“Arraseo.” Jawabku kemudian. kemudian ahjumma menepuk-nepuk pundakku. Kemudian pergi keluar karena untuk kesekian kalinya Jun Ki terbangun.

 

Aku masih memikirkan semuanya. Apakah akan kukatakan atau tidak. Aku mengambil ponselku dan menelpon Jong Woong.

“Yoeboseyo?” jawab Jong Woon dari seberang sana.

“Jo-Jong Woon, ngg begini, aku mau membicarakan sesuatu. Bisakah kau datang ke taman kota?” tanyaku padanya dengan agak takut-takut.

“Ohh.. baiklah, kebetulan ada yang ingin kubicarakan denganmu juga, kalau begitu aku berangkat sekarang.” Jawabnya kemudian. dan kemudian telpon ditutup. Aku melihat ke arah jam dinding.

“Mwo?? Aku menelponnya dan memintanya untuk pergi jam setengah 12 malam?? Lucu sekali!! Pabo Sun Li!” kataku dalam hati sambil menjitaki kepalaku. Aku berlari keluar rumah.

 

15 minute later

 

Aku akhirnya sampai juga di taman kota setelah berlari sekuat tenaga. Kulihat Jong Woon juga sedang duduk. Ketika ia melihatku datang, ia berdiri dan memberikan minumnya padaku. Aku meneguknya sedikit.

“Be-Begini.” Kata kami bersamaan.

“Ngg.. kau duluan saja.” Kata Jong Woon,

“Ani, kau dulu saja.” Jawabku kemudian.

“Aishh.. sudah kubilang kau duluan.” Jong Woon tetap ngotot. Percuma berdebat. Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakannya duluan.

“Begini. Aku hanya ingin bilang..” kataku terputus-putus karena masih berusaha mengumpulkan nafas. Jong Woon menatapku bingung.

“Sepertinya aku menyukaimu.” Kataku kemudian. Jong Woon langsung terdiam. Aku masih berusaha mengumpulkan nafasku.

“Payah…” jawabnya kemudian. aku kaget dengan jawabannya. Aku mendongak dengan muka yang nyaris pucat karena shock. Tapi kemudian dia mendekatiku dan mencubiti pipiku.

“Payaaaah~ Payaaaah~” katanya sambil terus mencubiti kedua pipiku.

“Huweeee.. Jong Woon-ah.. sakiit!” kataku meringis kesakitan. Tapi ia terus mencubiti pipiku. Dan kalau aku tidak salah lihat, aku seakan melihat seutas senyum yang lebar di bibirnya.

“Pabo.. tadinya aku mau bilang duluan… tak kusangka disalip olehmu….” Katanya sambil mencubiti pipiku dan setelah beres membuat kedua pipiku merah, ia kemudian memelukku. Kemudian, alarm jam Jong Woon berbunyi kencang.

“Nah… pertanda sudah jam 12 malam tepat.” Katanya kemudian. aku menatapnya bingung. Dia memegang kedua pipiku.

“Gomawo… ini hadiah terindah untukku.” Katanya kemudian. aku hanya menatapnya semakin bingung.

“Nado saranghae..” katanya dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Chakkaman!!” kataku kemudian. dia bingung sekaligus kecewa.

“Aku tidak pintar dalam hal itu.” Kataku kemudian. wajahku jelas sudah merah padam saat itu. Dia tertawa kecil. Dan kemudian mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku.

“Siapa yang peduli?” katanya sambil kemudian mencium bibirku dengan lembut. Aku memang tidak pintar dalam hal seperti itu, tapi jujur aku menikmati dia melumat lembut bibirku.

“Chakkaman, kau tidak mau mengatakan sesuatu padaku?” Tanya Jong Woon padaku setelah dia puas mengambil ciuman pertamaku. Aku menatapnya bingung.

“Aiishh.. ayolah chagi.. ini tanggal 24!” katanya kemudian. aku berpikir sebentar. Dan kemudian menepuk jidatku.

“Ahahahaa.. chagi… saengil chukae !!” kataku sambil memeluknya.

 

[3 years later]

 

BackGround Sound : Super Junior – No Other

 

Jong Woon POV

 

Midnight ~

 

Aku mencoba mengecek semuanya. Setelah aku yakin sudah lengkap barulah aku bisa tidur.

“yak, lengkap… tinggal kita lihat besok” kataku kemudian pergi tidur.

 

Jong Woon POV End

 

Sun Li POV

 

PTAAAR!!

 

“Sun Li-ya saengil chukkae hamnida…” seru Min Chan sambil meledakkan terompet yang berisi kertas-kertas kecil ke arah mukaku saat aku bangun tidur. Aku mengambil gulungan Koran dan memukul kepala Min Chan dengan menggunakan itu.

“Aigoo! Sakit tahu! Kejamnya kau!” katanya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Bodo.” Jawabku sambil menjulurkan lidahku padanya. Hari ini ulang tahunku yang ke 20. aku kuliah semester 1 di salah satu universitas di Seoul.

“Sun Li-ya Sun Li-ya… apa yang Jong Woon berikan padamu?” Tanya Min Chan semakin penasaran. Aku mengangkat bahu dan Min Chan hanya menghela napas tanda kecewa.

 

@ university

 

Aku penasaran, seharian ini Jong Woon tak terlihat dimanapun. Kuhubungi ponselnya juga tidak diangkat. Jadi kuputuskan untuk mendatangi kelasnya.

“AA-anyyeong, apa Kim Jong Woon ada?” tanyaku pada salah satu muridnya.

“Kim Jong Woon? Sepertinya dia tidak masuk hari ini. Bangkunya kosong.” Jawab orang itu. Aku memperhatikan bangku yang ditunjuk orang itu yang katanya selalu diduduki Jong Woon.

“Ohh.. Gomawo” kataku kemudian pergi dari kelas itu. Aku tidak ada kelas hari ini. Jadi kuputuskan untuk menghabiskan waktu di toko buku.

 

Sun Li POV End

 

Jong Woon POV

 

“Yahh lebih baik disini saja.” Pikirku. Kulihat segerombolan anak-anak di sana.kupanggil mereka semua mendekatiku dan kuserahkan beberapa balon yang kubawa pada mereka, dan juga pesawat kertas pada mereka.

“Nanti kalau kalian melihat ada perempuan yang datang kemari menemuiku, kalian lepaskan balon-balon yang kalian pegang. Tunggu sampai aku memberi tanda. Oke?” kata Jong Woon memberi arahan pada anak-anak kecil itu. Mereka semua hanya mengangguk tanda mengerti.

 

Aku mengeluarkan ponselku, menekan beberapa nomer dan…

“Yoeboseyo? Min Chan-ah, tolong kau hubungi Sun Li agar cepat pulang, oke oke? Gomawo…” setelah kututup teleponnya, yang kulakukan tinggalah menunggu.

 

Jong Woon POV End

 

Sun Li POV

 

Aku berjalan ke arah rumah, setelah ditelpon oleh Min Chan yang menyuruhku cepat pulang. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku. Di kamar, kudapati ada sebuah kotak di atas tempat tidurku. Saat kubuka kotak itu, ternyata berisi sebuah dress. Warnanya krem. Ada kartunya di dalam kotak itu, aku membacanya,

 

Coba kenakan ya…

aku ingin sekali kali melihatmu memakai pakaian seperti ini..

jangan lupa datang ke ******** pukul 12.00 siang ini.

 

With

Kim Jong Woon

 

“aiishh, setelah menghilang dari pagi, sekarang kau menyuruhku memakai gaun ini?” pikirku dalam hati. Aku dari dulu tidak pernah mengenakan gaun. Dengan segera kukirimkan sms SOS pada Min Chan.

 

Tak sampai 5 menit, Min Chan sudah ada di kamarku. Sedang membantuku mengenakan pakaian itu.

“Nah.. akhirnya aku melihatmu memakai pakaian itu…” kata Min Chan dengan cengirannya yang sungguh mengganggu.

“Aku tidak biasa memakainya. Lagipula, apa rok ini tidak terlalu pendek?” tanyaku yang masih tidak terbiasa mengenakan baju seperti itu.

“Sudahlah… tenang saja. Kau cantik kok.” Kata Min Chan berusaha menenangkan diriku.

“Sudah cepat pergi, ga enak kan kalau telat, sudah jam setengah 12 kurang nih, tempat itu kan lumayan jauh. Kkaja!” kata Min Chan mendesakku agar cepat pergi.

 

Sun Li POV End

 

Jong Woon POV

 

Kuperhatikan jam di ponselku. 11.59, yahh sekitar satu menit lagi. Kumasukkan ponsel ke saku.

“Jong Woon-ah?” panggil Sun Li dari belakang. Aku membalikkan badanku, sesaat aku terdiam. Oke kuakui aku terpesona padanya. Dia benar-benar memakai baju itu.

“Su-Sun Li-ya?” tanyaku takjub tak percaya.

“Wae? Sudah kuduga ini memang aneh, untung aku bawa baju ganti di mobil.” Katanya sambil membalikkan badannya untuk kembali ke mobil dan ganti baju. Aku menahannya dengan memegang tangannya.

“haha, pabo, aku bukannya mengejekmu, aku terpesona melihatmu. Kau cantik sekali.” Kataku padanya. Dia menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Alarm ponselku menyala, pertanda sudah jam 12 tepat. Aku memberikan tanda pada anak-anak yang bersembunyi di bawah panggung untuk melepaskan balonnya. Sun Li masih menatapku bingung. Tapi kemudian ia tertegun mendapati ada beribu balon yang terbang mengitari tempat aku dan dia berdiri.

“Bagusnya…” katanya terkagum-kagum. Kemudian kusodorkan kumpulan balonku padanya. Ia bingung.

“Chagi, Saengil Chukkae” tanyaku padanya. Ia benar-benar terdiam sekarang.

“Hey, jangan bengong!” kataku berusaha menyadarkannya. Dia menunjuk pada ujung tali pengikat balon milikku.

“Itu… cincin?” Tanya nya masih tak percaya. Aku menghela napas.

“apa harus kuulangi?”tanyaku padanya. Dia mengangguk. Kudekati dirinya, memakaikan cincin itu di jari manisnya.

“kuulangi sekali lagi ya… maukah kau menikah denganku?” tanyaku perlahan. Dia menatap cincin yang kukaitkan dengan tali-tali balon itu dan kemudian menatapku sambil mengangguk. Sepertinya saking bahagianya ia sampai bingung harus menjawab dengan kata-kata apa. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Perlahan kudekatkan bibirku ke bibirnya, ia pun membalas mendekatkan bibirnya sambil merangkulkan tangannya di leherku. Ciuman manis yang sama seperti yang kuberikan padanya 3 tahun lalu di hari ulang tahunku.

 

FIN~

 

hweeee maafkan aku.. ceritanya gantung ya ? ya ? huweeee bingung mau nulis apa.. please RCL thankKYU… mianhae kalo ceritanya rada aneh ya .. jeongmal mianhae…

Advertisements
Categories: oneshoot | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Believe in Love

  1. Min Gi

    aa~ keren chingu ><
    daebak !
    kayaknya ini ff yesung yg plg manis deh..
    soalnya slma ini ff yesung aku baca crtanya sedih" semua o.O
    haha~
    lanjutkan! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: