Oppa! Please Look At Me! [part1]

AUTHOR : Choi Sun Li a.k.a Sasha
TITLE : Oppa ! Please Look At Me !

CAST :
Choi Sun Li a.k.a Author *eksis selalu.. * *PLAK*
Song Hyun Ri a.k.a Siska *my bebh eksis lagi* *PLOK*
Dong Young Bae a.k.a Taeyang Bigbang *akhirnya suami gw eksis lagi XD*
Yuri SNSD
Choi Min Hwan a.k.a Minhwan FT Island

Yak sodara sodari … akhir kata saya ucapkan , selamat menikmati (?) ..
Please fasten your seatlbelt, and ready your popcorn XD

“omo~ oppa , dirimu ganteng sekali!” jerit Sun Li dalam hati saat memperhatikan sunbae kesayangannya Dong Young Bae. Sudah hampir setahun lebih ia menyukai sunbaenya itu tapi perasaannya tak kunjung sampai.
“Heh non ! mulai lagi dah ni anak.” , sontak Sun Li kaget dan nyaris terlonjak. Pelan-pelan ia memutar kepalanya.
“Aigo! Hyun Ri-ya ! Bikin kaget aja!!” protes Sun Li pada sobatnya itu.
“Kau juga , mau sampai kapan mengejar tanpa ada hasil?” Tanya Hyun Ri , dan Sun Li hanya terdiam mendengar perkataan itu. Hyun Ri menghela napas melihat tingkah sobatnya itu.
“Begini ya… kalau kau memang tidak berani…” kata Hyun Ri kemudian, Ia memegang pundak sobatnya itu.
“Ya tabrak saja langsung…” dan kemudian Hyun Ri mendorong sobatnya dengan tampang tak berdosa. Sun Li tentu saja hilang keseimbangan dan…

BRAK !!!

“aduuuh ! sialan kau Hyun Ri-ya” Sun Li jatuh tersungkur dengan sukses. Tapi anehnya sedikitpun dia tak merasa kesakitan.
“aw…” terdengar suara rintihan seseorang dari bawah Sun Li yang dengan sukses juga menjadi matras penyelamat Sun Li. Dengan takut-takut Sun Li menoleh ke bawah berusaha melihat siapa yang ia tabrak. Ternyata eh ternyata … Taeyang sendirilah yang jadi ‘matras’ Sun Li.
“AIGO!!! Yo-Young Bae oppa ! Je-jeongmal mianheyo !!” kata Sun Li tergagap meminta maaf pada Taeyang.
“Gwechana… kau tak apa?” Tanya Taeyang sambil tersenyum ramah. Senyum yang amat disukai Sun Li. Merasa tak dijawab pertanyaannya, Taeyang melambaikan tangannya di depan wajah Sun Li karena merasa Sun Li sedang bengong.
“Halooo?” panggil Taeyang
“Eh? Ye?” jawab Sun Li polos. Masih terngiang-ngiang akan senyum itu. Hyun Ri yang memperhatikan sobatnya dari balik tembok hanya bisa geleng-geleng kepala karena heran. Dilihatnya Sun Li sempat mengobrol sebentar dan kemudian pergi menuju ke arahnya. Saat berjalan ke arahnya, tampak wajah Sun Li yang ingin mencekiknya, dan tentu saja Hyun Ri dengan segera mengambil langkah seribu tetapi Sun Li berhasil mengejar sobatnya itu.

-saat istirahat siang-

Sun Li bengong sambil menghadap jendela. Pikirannya melayang. Sampai pada akhirnya ia tersadar kembali ke dunia nyata karena punggungnya ditepuk oleh Hyun Ri.
“Heh. Bengong mulu. Daripada nanti kesambet, lebih baik kau temani aku ke kantin.” Ajak Hyun Ri, Sun Li menurut dan mengikutinya. Di tengah jalan, mata Sun Li menangkap sosok Taeyang dan badannya secara otomatis mengikuti sunbaenya itu.
“Sun Li, bagaimana kalo ki-“ Hyun Ri berbicara dan ketika menoleh didapatinya Sun Li sudah tak ada di tempat.
“Cish, kemana lagi dia!” Hyun Ri segera mencari Sun Li. Sementara itu di lain tempat, Sun Li sedang mengintip Taeyang dari balik tembok. Dan tiba-tiba, pundaknya disenggol dengan keras oleh seseorang. Sakit sudah pasti dan Sun Li tentu saja ingin marah. Tapi niatnya untuk marah urung ketika ia melihat segerombolan yeoja yang dipimpin oleh Yuri itu melihatnya dengan tatapan merendahkan. Yuri, paling senang menyingkirkan siapapun yang ingin mendekati Taeyang.
“Sadar diri kau. Orang sepertimu tidak pantas untuk menyukai Young Bae oppa.” Kata Yuri tajam. Sun Li diam saja, alis matanya turun, bibirnya mulai mengerucut, dan matanya mulai menatap tajam. Kenapa dia tidak melawan? Dia tahu, perkataan Yuri tidak salah, tapi ia paling benci dipandang rendah. Memang benar, selama ini Sun Li tak pernah berani mendekati Taeyang karena dia minder. Tidak ada kelebihan sedikitpun dalam dirinya. Karena itu ia berpikir memperhatikan Taeyang dari jauh saja sudah bahagia. Dari jauh, tampak Hyun Ri yang sekilas melihat sahabatnya itu dirajam kata-kata tajam oleh Yuri cs. Iapun mendatangi sobatnya itu.
“Sudahlah Sun Li, omongan mak lampir itu tak usah kau dengar.” Kata Hyun Ri berusaha menenangkan emosi sahabatnya. Sun Li masih menajamkan matanya, dan akhirnya pergi dari tempat itu.

-at home-

Tok Tok Tok

”Ne?” Tanya Minhwan sambil memukul-mukulkan stik drumnya di kasur.
“Oppa… aku ingin tanya sesuatu…” Sun Li menongolkan wajahnya di balik pintu kamar Minhwan.
“Waeyo?” Tanya Minhwan sambil memutarkan stik drumnya di sela-sela jari tangannya *gw juga bisa !* <– pamer .. *reader tabok author*
“Oppa, memangnya tipe cewe ideal para namja itu apa?” Tanya Sun Li to the point. Minhwan seketika bengong dan stiknya langsung jatuh dari tangannya. Tumben saengnya itu bertanya seperti itu. Sementara Sun Li masih terdiam menunggu jawaban.
“Yahh.. mungkin, biasanya sih mereka lebih suka yeoja cantik, berpenampilan bagus, dan semampai. (semampai bukan artinya semeter tak sampai ya!!!)” jawab Minhwan agak-agak bingung. Sun Li hanya manggut-manggut dan mencoba mengerti.
“Ohh.. begitu… gomawo oppa!” kata Sun Li berterima kasih sambil memeluk oppanya dan kembali ke kamar, meninggalkan Minhwan yang masih merasa bingung karena tumben saengnya itu bertanya seperti itu.

Di dalam kamar, Sun Li mencoba memandangi dirinya di cermin dan memulai penilaian. Dan jeng … jeng… jeng… dia 100% bertolak belakang dari tipe yang disebutkan oppanya itu. Sun Li mengehembuskan napas berat.
“Kalau dilihat dari atas. Cantik… hmm , lihat saja rambutku, pendek , acak-acakan dan agak kaku. Tidak seperti kebanyakan yeoja yang rambutnya panjang dan halus. Wajahku, karena kebanyakan olah raga, kulitku jadi gosong, sedangkan kebanyakan yeoja berkulit putih mulus. Sedangkan kulitku kasar.” Sun Li berbicara pelan kepada dirinya sendiri sambil menilai tubuhnya. Ia mengacak-acak rambutnya, menggembungkan pipinya dengan kedua tangan di pipinya itu. Lalu menghembuskan napas lagi.
“Lalu… kedua berpenampilan bagus. Dilihat dari sisi manapun, penampilanku ini cuek bebek kwek kwek kwek. Kemana-mana pakai jeans kaos dan converse. Sedangkan yeoja-yeoja diluar sana semuanya modis.” Sun Li kembali berbicara menilai dirinya. Ia memegang pinggangnya dengan kedua tangannya.
“Kemudian… semampai (bukan semeter tak sampai!!!) … Huh! Ini sih sudah tidak mungkin. Aku tidak terlalu tinggi. Lebih tepatnya aku mungil.” Sun Li meratapi dirinya di cermin. Tangannya memegang kepalanya dan berusaha berjinjit untuk meninggikan badannya. Ia menghela napas berat, dan berjalan menuju kasur empuknya yang berwarna abu-abu. Ia merebahkan dirinya di atas kasur. Dibukanya ponselnya,
“saatnya Ritual Malam…” katanya sambil senyum-senyum sendiri. (Ritual Malam : mandangin foto Taeyang yang jadi wallpaper di ponsel) <–serius
“Oppa… Saranghae..” kata Sun Li sedikit berbisik dan kemudian tanpa sadar iapun tertidur sambil memeluk ponselnya.

Next Day in the morning…

“SUN LI !!! MAU TIDUR SAMPAI KAPAN !! BANGUN !!!!” teriak umma sambil menggedor-gedor pintu kamar Sun Li. Di kamar , orang yang diteriaki masih tengkurap di tempat tidurnya, ia menutup telinganya dengan bantal. Tapi ternyata suara ummanya masih terdengar. Setelah mulai merasa terganggu akan teriakan ummanya, Sun Li bangun dengan malas-malasan.
“YA!! UMMA!! KAU BERISIK !! DIAMLAH SEDIKIT!!” teriak Sun Li dari dalam kamar. <– don’t try this at home.. *contoh anak durhaka*
“HEH !! SOPAN BETUL KAU !!!! SUDAHLAH CEPAT KAU BANGUN DAN MANDI LALU SARAPAN !!” teriak umma dan kemudian pergi kembali menuju ruang makan.

Di kamar, Sun Li merenggangkan badannya seperti kucing yang baru bangun. Dan kemudian beranjak dengan mata yang masih agak tertutup dan berjalan menuju kamar mandi. Tak sampai 15 menit, ia sudah keluar kamar mandi dan segera berpakaian. Dan dengan langkah gontai *tanda masih ngantuk* ia berjalan ke ruang makan.

15 menit kemudian
“Umma , aku berangkat dulu ya… “ pamit Sun Li dan kemudian berlari menuju halte bus. Dari jauh dilihatnya bus yang biasa ia tumpangi untuk ke sekolah sudah nyaris berangkat. Sun Li mempercepat larinya.
“OMO ! Tunggu !! Tunggu aku !!!” teriak Sun Li sambil terus berlari. Sungguh sial dirinya, supir bus itu tidak mendengar, dan bus itu melenggang pergi.
“Ahh sial, bus berikutnya sekitar 1 jam lagi, sedangkan bel sekolah bunyi 20 menit lagi.” Sun Li mengecek jam tangannya, benar saja, kalau jalan kaki pasti akan memakan waktu 30 menit lebih. Tapi nekat saja. Sun Li berlari menuju ke sekolahnya.

Taeyang berhenti sebentar di depan sebuah toko untuk membeli buku tulis. Kemudian saat ia kembali menaiki motornya, dilihatnya seorang yeoja yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya sedang berlari – lari. Dihidupkannya mesin motornya dan menyusul yeoja itu.
Di tengah jalan, Sun Li yang masih berlari sekuat tenaga, sekarang sudah nyeris kehabisan napas.
“I can’t breathe I can’t breathe !” *mendadak nyanyi* kata Sun Li terengah-engah. Dipelankannya langkah kakinya. Ia berjalan sebentar sambil berusaha mengatur napasnya yang nyaris hilang.
“Hey kau.” Panggil seseorang. Sun Li sangat mengenal suara itu. Ia menoleh ke belakang sambil tetap mengatur napasnya.
“Kau murid sekolahku kan? Mau bareng?” tawar Taeyang. Sun Li yang masih mengatur napasnya hanya mengangguk tak percaya kalau dirinya akan diajak oleh Taeyang.
“Yes ! baru kali ini ritual malamku berhasil !!” jerit Sun Li dalam hati. Akhirnya Sun Li berangkat ke sekolah dengan diboncengi Taeyang.
“Hey.” Panggil Taeyang.
“N-Ne?” jawab Sun Li agak gugup.
“Kenapa kau berlari?” Tanya Taeyang kemudian.
“Emm … aku ketinggalan bus, jadi daripada menunggu bus selanjutnya dan telat, lebih baik aku berlari saja.” Jawab Sun Li sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
“hahaha. Hebat betul. Hanya demi tidak telat kau nekat berlari sejauh itu bahkan sampai nyaris habis napas seperti tadi.” Jawab Taeyang sambil tertawa kecil. Sun Li mengecek jam tangannya.
“Aigo! Oppa, kita hanya punya waktu 10 menit untuk sampai ke sekolah!” kata Sun Li mulai panik.
“Ohh.. tenang saja..” jawab Taeyang santai. Tiba-tiba Taeyang tancap gas, dan motor melaju kencang sekali. Sun Li kaget bukan main, dirinya nyaris jatuh terjungkal tapi dengan segera ia merangkul pinggang sunbaenya itu.
“Aku masih ingin hidup … aku masih ingin hidup…” doa Sun Li dalam hati. Karena kejadian hampir jatuh tadi, ia benar-benar memohon agar ia masih hidup.

sesampainya di sekolah

“ Ya Tuhan terima kasih karena aku masih hidup!!!” Sun Li mengatupkan kedua tangannya dan menengadah ke langit dengan wajah bersyukur.
“Untung tidak telat…” kata Taeyang santai.
“Young Bae oppa, kau benar-benar mau membunuhku ya??” Tanya Sun Li sambil menajamkan matanya.
“Hahaha.. ada-ada saja. Sudah ya sampai nanti.” Pamit Taeyang dan berjalan menuju kelasnya. Sun Li terdiam dan kemudian berlari lagi menuju kelasnya *kok kayaknya naek motor ga ngaruh ya?? Tetep aja ujung’’nya lari*

istirahat~

Sun Li baru saja mengeluarkan kotak bekalnya. Tiba-tiba mejanya digebrak oleh seseorang.
“Astaga~ orang ini lagi…” batin Sun Li. Wajahnya menunjukkan wajah malas.
“Hei! Kau yang tadi pagi naik motor dengan Young Bae oppa kan??” bentak yeoja yang ada di depan meja Sun Li.
“Pakai mantra apa kau sampai-sampai Young Bae oppa mau mengantarmu???” bentak yeoja yang lainnya.
“Yak minggir minggir…” perintah seseorang yang siapa lagi kalau bukan Yuri. 2 yeoja itu langsung memberi jalan bagi tuan mereka itu. Muka Sun Li sekarang benar-benar malas. Pandangan matanya menajam sekarang.
“Aku hanya minta penjelasan. Berani-beraninya kau memaksa Young Bae oppa untuk mengantarmu.” Kata Yuri tajam. Dan tuduhan itu benar-benar tidak enak di telinga Sun Li.
“Oh.. Maaf tuan putri. Apa kau yakin dengan perkataanmu barusan? Memaksa ? maaf aku bukan tipe orang seperti kau.” Jawabku yang sekarang tak kalah ketus. Yuri tidak terima Sun Li bicara begitu, tangannya mencengkeram kerah baju Sun Li.
“Heh. Dengar ya jelek. Jangan berani-beraninya kau mendekati dia lagi. Sadar diri lah. Kau tidak pantas untuknya.” Kata Yuri memperingatkan. Sun Li mendengus. Ia tersenyum kesal.
“Lalu, kau pikir, wanita yang hanya SETIPE denganmu lah yang pantas dengannya? Sadar non, semua orang tuh beda. Kau hanya bilang seperti itu agar dia tidak disentuh orang lain.” Balas Sun Li lebih tajam dan menekankan suaranya pada kata-kata ‘SETIPE’. Yuri diam dan tak bisa menjawab.
“Maaf saja, aku dari dulu sudah capek kau rendahkan. Kau pikir kau yang paling hebat lalu merendahkan orang?” balas Sun Li sambil menatap Yuri tajam. Kemudian Sun Li menepis tangan yeoja itu, dan beranjak pergi menuju atap sekolah.

atap sekolah

Sun Li berdiri sambil bersandar pada pagar besi. Headphone tertempel di telinganya. Sesekali tangannya mengikuti dentuman lagu. Ia berusaha melupakan yang tadi. Biasanya ia dapat melupakan semua kekesalan dengan mendengarkan musik. Raut wajahnya lesu. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mengikuti irama lagu.
“Loh… ketemu lagi…” sapa seseorang. Sun Li menoleh dan mendapati ada Taeyang yang sedang menenteng kantung plastik yang sepertinya berisi makanan yang ia beli di kantin. Sun Li menundukkan kepalanya sambil tersenyum dengan maksud memberi salam. Kemudian Taeyang merogoh-rogoh kantung plastiknya dan mengeluarkan sebuah susu kotak.
“Mau?” Tanya Taeyang kemudian.
“Gomawo…” Sun Li menerima susu kotak itu tanpa melihat rasa apa. Dengan segera ia menancapkan sedotannya dan meminum susu itu. Tiba-tiba Sun Li berhenti meminum susu itu. Ia mulai batuk-batuk.
“Gwe-gwechana?” Tanya Taeyang khawatir.
“A-aku uhuk uhuk , aku alergi uhuk uhuk , alergi coklat UHUK !!” jawab Sun Li sambil terbatuk-batuk. Sejak kecil dia alergi coklat.
“Gurae?? Omo..” Taeyang mulai panik sekarang. Setau dia biasanya kebanyakan yeoja suka coklat, ternyata Sun Li berbeda. Seharusnya ia tidak memberikan susu kotak rasa coklat.
“Gwechana sunbaenim. Aku permisi ke toilet sebentar.” Pamit Sun Li. Kemudian dia bergegas menuju toilet. Di tengah jalan ia bertemu Hyun Ri.
“Sun Li-ya, kemana saja?? Aku mencarimu kemana-mana” Hyun Ri mulai mengeluarkan kalimat protesnya. Tapi tak dilanjutkan karena Sun Li keburu pingsan. Beruntung karena Hyun Ri berhasil menahan badannya.
“Omo! Sun Li-ya ! kau kenapa??” Tanya Hyun Ri panik, kemudian ia menggotong Sun Li menuju ruang kesehatan.

Di tempat tidur UKS, terbaring Sun Li yang masih tertidur lemah.
“Aku akan menghubungi keluarganya untuk membawanya pulang. Kau boleh kembali ke kelas.” Kata sonsaengnim, Hyun Ri akhirnya kembali ke kelas meskipun sebenarnya tidak mau *kan lumayan bolos pelajaran* <– author ga beres
Selang sekitar 20 menit, Minhwan datang.
“Permisi…” sapa Minhwan
“Oh, kau Choi Min Hwan? Oppa Sun Li?” Tanya sonsaengnim, Minhwan hanya mengangguk mengiyakan.
“Ada apa dengannya?” Tanya Minhwan sambil menunjuk ke arah saengnya.
“Molla… kata temannya dia tiba-tiba pingsan dan suhunya panas. Mungkin demam”jelas sonsaengnim. Minhwan kemudian menggendong saengnya itu. Dan pamit pulang pada sonsaengnim yang menjaga ruang kesehatan.

07.30 PM

Sun Li membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya sebentar, dan kemudian mendapati kalau ia sudah berada di kamarnya.
“Aku pingsan lagi.” Kata Sun Li setengah berbisik. Ia masih merasa tidak enak badan, sehingga suaranya menjadi sedikit serak.

Tok

Sun Li merasa mendengar sesuatu atau hanya perasaannya?

Tok

bunyi itu ada lagi.. Sun Li menoleh dan mengedarkan pandangan. Kemudian ia memasang telinganya baik-baik berusaha mengetahui dari mana suara itu berasal.
Tok

Sun Li langsung menoleh ke arah jendela. Ia membuka horden dan mendapati di luar ada Taeyang. Tidak disangka-sangka. Dengan segera Sun Li membuka jendela.
“Yo-Young Bae oppa ?? bagaimana bisa kau ada disini??” Tanya Sun Li heran dengan suara serak-seraknya.
“Ngg.. Yaahh.. aku hanya mencari alamatmu di data siswa” jawab Taeyang malu malu jujur. <– apa pula itu malu malu jujur??
Sun Li terdiam. Ia tertawa kecil. Dan juga sesekali terbatuk.
“Ngg.. aku.. hanya mau meminta maaf sudah membuat alergimu kambuh.” Kata Taeyang akhirnya. Sun Li diam. <– maklum terpesona… *PLAK*
“Gomawo sunbaenim.” Jawab Sun Li sambil berterima kasih. Dia tak tahu harus bicara apa lagi. *maklum baru kali ini ritual malem berhasil* XD
“Ka-kalau begitu, a-aku pulang dulu ya. Oh iya, ini tangkap!” kata Taeyang sambil melemparkan sesuatu. Dan Sun Li sukses menangkapnya *mantan nak basket* .
“Obat ?” pikir Sun Li
“Sampai besok…” pamit Taeyang, lalu kemudian dia pergi. Sun Li hanya meratapi kepergian sunbae nya itu dari jendela. Kemudian ia masuk dan menutup jendelanya karena udara mulai dingin. Ia meringkuk di dalam selimutnya. Ia senyum senyum sendiri sambil memeluk obat pemberian Taeyang.
“Oppa… jeongmal saranghae…” kata Sun Li serak-serak.

TBC~

Advertisements
Categories: chapter | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: