oneshoot

You are The Only One For Me

YA ! Choi Sun Li a.k.a Sasha is back with another FF.

And this is the tittle : You are the only one for me

Cast ::
Choi Sun Li a.k.a Sasha
Dong Young Bae a.k.a Taeyang Bigbang
Choi Seung Hee a.k.a Lanita
Song Hyun Ri a.k.a Siska
Choi Seung Ri a.k.a Seungri Bigbang
Jung Ji Hoon a.k.a Rain

Please fasten your seatbelt, and ready your popcorn . And now, the story begin…

Sun Li berjalan sendirian di tengah hujan deras tanpa payung. Ia berjalan sangat lesu. Dan kemudian ia berhenti sejenak. “Gwechana. Aku bisa menghadapi ini semua. Mulai besok, aku dan dia bukanlah siapa-siapa lagi.” Katanya pelan dan bergetar. Sun Li menangis di tengah hujan yang deras. Melepaskan semua rasa sakitnya selama ini. Dan kemudian ia kembali berjalan pulang.

Morning, at 7.30 am

“Sun Li. Bangunlah hey! Memangnya kau tidak kuliah hari ini?” Seungri berusaha menarik saengnya keluar dari dalam selimut dengan menarik kakinya. Sun Li terlalu lemas untuk menanggapinya. Jadi dia diam saja.
“Omo! Panas sekali badanmu. Kau sakit?” Seungri melepaskan tangannya dari kaki Sun Li dan kemudian memegang dahi saengnya itu.
“Aniyo oppa. Sudah, aku mau mandi dulu.” Sun Li menyingkirkan tangan Seungri dari dahinya dan berusaha berdiri.
“Eiit!!” tak disangka-sangka, Seungri kemudian memegang kedua bahu saengnya itu, dan membantingnya kembali ke tempat tidur lalu melempar selimut ke arah Sun Li *MAK!! AKU DIBANTING!!! QAQ**tabok V pake wajan**orang sakit kok dibanting!!*
“Badan lemas kaya gitu lebih baik tidur saja. Nanti aku bilang umma agar membawakan obat. Sudah ya, aku mau berangkat kerja.” Kata Seungri seraya keluar dari kamar Sun Li. Sun Li terdiam. Kemudian ia menarik kembali selimutnya yang tebal dan menyelimutin seluruh tubuhnya. Sun Li terus memperhatikan ponselnya yang terletak di sebelah bantalnya.
“Sekarang ponsel ini tidak akan pernah menyanyikan lagu my heaven lagi.” Katanya pelan dan lesu. Mengingat kejadian kemarin sontak membuat hatinya sakit. Akhirnya dia mematikan ponselnya dan kembali tidur.

Central University, 9.00 am

Taeyang memandangi papan tulis dengan pandangan kosong. Tak satupun teori dari sonsaengnim yang masuk ke otaknya.

Tok Tok Tok~

“Ne? Masuk.” kata sonsaengnim. Kemudian pintu dibuka, dan tampak seorang petugas yang memanggil.
“Han Ju-ssi, ini sudah waktunya anda seminar.” Kata orang yang tadi mengetuk pintu. Han Ju-sonsaengnim melirik ke arah jam tangannya dan kemudian dengan segera membereskan barang-barangnya. Sebelum pergi ia menulis tugas yang harus dikerjakan murid-muridnya di papan. Taeyang tetap memandang papan tulis dengan pandangan kosong. Satu persatu mulai berhamburan keluar, sedangkan Taeyang masi tetap bergeming.
“YA!” GD menepuk punggung Taeyang dan membangunkan namja itu dari lamunannya.
“Eh? Waeyo? Kenapa kelas kosong?” tanya Taeyang linglung pada GD.
“Omo. Kemana saja jiwamu selama pelajaran tadi. Kelas sudah lama kosong begini kaupun tak tahu.” GD melambaikan tangannya di depan wajah Taeyang, berusaha memastikan bahwa namja itu masih sadar. Taeyang menyingkirkan tangan GD dan kemudian berdiri.
“Sudahlah, ayo pergi.” Taeyang berjalan keluar meninggalkan GD yang saat itu sedang duduk di meja.
“Hoy. Kau tak ingin mencatat tugas dari sonsaengnim?” tanya GD sambil mengejar Taeyang
“Tidak penting.” Jawab Taeyang singkat dan melanjutkan jalannya. GD pun hanya mengikuti sahabatnya itu. Kedua namja itu berjalan ke sebuah Café tempat mereka berdua biasa minum kopi. Mereka duduk dan memesan minuman. Kemudian Taeyang mengeluarkan ponsel LG Cyon Edge miliknya.

no new message

Taeyang memandangi layer ponselnya dengan pandangan kosong seakan-akan dia sudah tak dapat berpikir apa-apa lagi. GD memperhatikan sikap sahabatnya itu. Entah apa yang terjadi dan belum diceritakannya, tapi dari sikap sahabatnya yang tidak biasa itu, GD tahu kalau ada sesuatu.
“Young Bae-ya” panggil GD, tapi Taeyang tak menanggapi panggilannya.
“Oi. Young Bae-ya!” panggil GD untuk kedua kalinya. Dan Taeyang masih tetap tidak membalasnya. GD habis kesabaran.
“YOUNG BAE-YA !!!” GD memanggil dengan volume suara sedikit lebih keras sekarang *tapi ga teriak ya*.
“Eh? Waeyo?” tanya Taeyang bingung pada GD. GD hanya menghela napas berat. Taeyang masih menatap bingung pada GD.
“Ada apa denganmu? Seharian ini kau aneh sekali.” Tanya GD pada Taeyang. Taeyang hanya menghela napas berat dan kemudian menatap kosong ke arah luar.
“Gwechana Ji Yong.” Jawab Taeyang lesu. GD menghela napas. Kalau Taeyang memang tidak mau cerita, sebaiknya jangan dipaksa.

Sun Li’s house 01.00 pm

“Sun Li. kau mau makan tidak?” tanya Seung Hee dari arah pintu.
“Aniyo umma. Aku tidak lapar.” Ini kesekian kalinya Sun Li menolak saat ditawari makan. Seung Hee sekarang benar-benar habis kesabaran menghadapi putrinya ini.
“Umma bawakan bubur. Pokoknya saat umma kembali untuk mengambil piring, piring itu harus sudah bersih. Arraso ?” Seung Hee pun pergi ke dapur untuk menyiapkan bubur. Sedangkan Sun Li masih terbaring lemas di tempat tidur.

aigo. Aku malas makan. Benar-benar tidak nafsu makan.

Sun Li kemudian membuka ponselnya yang model flip flop dan menghidupkan kembali ponselnya yang tadi dimatikan. Setelah dinyalakan, ada sekitar 5 sms masuk. 3 dari operator dan 2 dari Hyun Ri dan Ji Hoon, sobatnya dari kecil. Sun Li segera mengetik balasannya. Dan kemudian mengecek inboxnya. Satu persatu sms dari Taeyang dihapusnya. Kemudian ia mengatupkan ponselnya dan meletakkannya di sebelah bantal.

“Sun Li, ini dimakan buburnya!” Seung Hee tampak membawakan mangkuk berisi bubur hangat untuk putrinya. Sun Li bangun dan duduk di tempat tidur.
“Gumawo umma.” Kata Sun Li sambil meletakkan nampan dan mangkuk bubur itu di pangkuannya.
“Habiskan ya, lalu minum obat.” Seung Hee, meletakkan obat dan minum di meja di sebelah tempat tidur Sun Li lalu kemudian keluar kamar. Sun Li mengaduk-aduk buburnya, dirinya benar-benar tidak nafsu makan tapi ia dipaksa untuk makan. Akhirnya, pelan-pelan ia menyantap bubur hangatnya.

Tok Tok Tok~

“Masuk saja” jawab Sun Li pelan. Kemudian Hyun Ri dan Ji Hoon masuk ke kamar Sun Li.
“Annyeong” kata Ji Hoon. Hyun Ri segera duduk di tempat tidur Sun Li.
“Sun Li-ya, gwechana?” tanya Hyun Ri sambil memegang dahi Sun Li. Ji Hoon mengambil kursi beroda milik Sun Li dan duduk disitu.
“Gwechana. Gumawoyo sudah mau menjenguk” kata Sun Li sambil menyunggingkan senyum kecil di wajahnya. Sun Li sebenarnya senang, karena 2 sahabatnya ini sudah mau repot-repot datang menjenguk di tengah tugas kuliah yang semakin lama semakin padat. Kami bertiga mengobrol seru saat itu. Sampai kemudian ponsel Hyun Ri berbunyi.
“Annyeong? Ne oppa. Aku di rumahmu. Ne.” kata Hyun Ri dengan wajah penuh senyum. Sun Li dan Ji Hoon tahu betul siapa yang menelepon yeoja itu, dan hanya saling pandang dengan tatapan nakal.
“He? Mwo?” tanya Hyun Ri bingung. Sun Li dan Ji Hoon hanya tertawa kecil. Hyun Ri semakin bingung dibuatnya.
“Gwechana Hyun Ri-ya. Yang langgeng ya sama oppaku.” Kata Sun Li sambil kemudian merangkul sahabatnya itu. Kami pun tertawa bersama.

Meanwhile, at Apartement, 8.00 pm

Taeyang meratapi layar ponselnya. Terdapat foto yeoja yang sedang tersenyum cerah pada layar ponselnya. Entah kenapa ia tak dapat melupakan yeoja yang sangat dicintainya itu. Dirinya galau, ingin rasanya bertemu tapi ia tahu kalau Sun Li akan menghindarinya. Taeyang benar-benar menyesal karena sudah berbicara sesuatu yang menyakiti hati Sun Li dan membuat Sun Li meninggalkannya.
“Babo kau Young Bae. Babo Babo.” Kata Taeyang pada dirinya sendiri. ia merebahkan badannya ke tempat tidur.

Andai saja waktu itu aku tak mengatakan itu. Pasti tak akan begini jadinya.Pasti dia masih di sisiku dan tersenyum padaku. Ahh babo betul diriku ini.

Taeyang terus mengutuki sikapnya pada Sun Li saat itu. Butiran air mata Sun Li saat itu pun masih terbayang-bayang di benaknya. Taeyang membenamkan wajahnya ke bantal. Berusaha untuk mencari cara agar ia dan Sun Li dapat bersama lagi. Begitu sengsara dirinya saat tak ada Sun Li di sisinya.

2 weeks later

Taeyang berjalan lesu di koridor kampus. Setelah berhari-hari ia mengerjakan tugas kuliah miliknya yang sudah ngantri, akhirnya hari ini ia dapat menyelesaikan semuanya dan mengumpulkannya. Saat sedang berjalan, dari jauh tampak Sun Li sedang berjalan kea rah yang berlawanan dengannya. Taeyang benar-benar merindukan yeoja itu ingin rasanya memanggil nama yeoja itu tapi mulutnya terkunci, ingin rasanya memeluk tapi mendadak tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak. Sekarang Sun Li hanya berjarak sekitar 5 meter lagi darinya, Taeyang berusaha membuka mulutnya untuk menyapa, tapi ternyata Sun Li sedikitpun tidak menganggapnya dan terus berjalan menjauhinya. Taeyang masih berdiri dalam keadaan shock. Tak menyangka kalau dia akan dianggap tidak ada seperti itu. Dengan sisa tenaga yang ada, Taeyang kembali berjalan menyusuri koridor untuk mengumpulkan tugas. Di sisi lain, Sun Li pun tak mampu menahan air matanya. Ia pun sebenarnya tak bisa kalau harus berlagak seperti itu. Tapi ia memaksa dirinya untuk melupakan namja itu.

Taeyang menyerahkan tugas-tugasnya pada sonsaengnim, dan kemudian berjalan keluar dari kampus menuju café langganannya. Ia duduk di sudut favoritnya dengan headphone di kedua telinganya. Hatinya masih sakit karena kejadian di kampus tadi. Maka dari itu dia berusaha melupakannya sejenak dengan musik. Kembali ia merenung.

Aku tak bisa begini terus. Aku tak tahan kalau tidak bersamanya. Akan kubuat dia kembali padaku.

Akhirnya Taeyang pun sudah membulatkan tekadnya. Ia menghabiskan kopinya, dan berjalan kembali ke kampus untuk menemui Sun Li. Taeyang bertekad untuk melakukan apapun yang dia bisa untuk membuat yeoja itu kembali padanya. *dari tadi kek ngebulatin tekad gitu. Capek tahu nangis mulu**PLAK*

Central University 02.00 pm

Sun Li duduk sambil mengerjakan tugasnya di perpustakaan kampus. Kemudian ia berdiri dan bermaksud mengambil buku yang lain. Sun Li mencari-cari dan akhirnya menemukan buku itu di rak yang lebih tinggi darinya.
“Omo. Tingginya.” Kata Sun Li pelan. Ia berjinjit berusaha mengambil buku itu. Tapi ternyata masih belum terjangkau. Tiba-tiba tangan seorang namja membantunya mengambilkan buku tersebut. Sun Li menoleh bermaksud mengucapkan terima kasih.
“Guma…” belum selesai dia berbicara, suaranya sontak menghilang saat yang menolongnya ada Taeyang.
“Cheonmane,” kata Taeyang singkat. Sun Li berjalan kembali ke tempat ia duduk, dan Taeyang mengikutinya dan duduk tepat seberang tempat Sun Li duduk. Sun Li melanjutkan tugasnya, dan Taeyang hanya memandanginya. Sun Li yang sebenarnya merasa tidak enak karena dipandangi dalam-dalam seperti itu, akhirnya angkat bicara,
“Waeyo?” tanyanya judes.
“Gwechana” jawab Taeyang singkat.
“Berhenti memandangiku seperti itu. Kau membuatku merinding.” Pinta Sun Li pada Taeyang. Akhirnya Taeyang menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan mukanya kedalamnya. Sun Li menghela napas dan melanjutkan tugasnya.
“Sun Li-ya.” Panggil Taeyang yang masih membenamkan wajahnya kedalam kedua tangannya yang disilangkan
“Ne?” jawab Sun Li sambil terus mengerjakan tugasnya.
“Jeongmal mianheyo Sun Li-ya” kata Taeyang dengan nada sedikit bergetar. Sun Li menghentikan pekerjaannya. Ia diam saja, mulutnya tak mampu untuk menjawab.
“Aku butuh kau Sun Li. Rasanya sengsara tanpa kau. Aku benar-benar butuh kau Sun Li-ya. Jeongmal mianheyo.” Taeyang terus berbicara, dan Sun Li benar-benar tidak tahu harus berbicara apa. Hatinya benar-benar galau saat itu.
“Mi-mianheyo oppa, aku harus pergi.” Sun Li yang sudah tidak tahu harus berbuat apa, segera membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar perpustakaan. Taeyang berusaha mengejarnya tapi saat di belokan yeoja itu sudah menghilang. Taeyang kembali menjadi lesu, ia berjalan pulang dengan hati yang galau. Ternyata ia baru sadar, yeoja itu semakin kurus, pipinya tidak setembem dulu. Taeyang terus berjalan dan berhenti di pinggir sungai *bukan mau bunuh diri loh!!*. sejenak dia menatap langit, lalu kemudian berteriak sekencang-kencangnya. Hatinya betul-betul sakit, Sun Li benar-benar menghindarinya, bahkan enggan menatap matanya dan menyebut namanya.

At Sun Li’s room. 8.30 pm

Sun Li membenamkan wajahnya kedalam bantal. Terlalu sulit baginya untuk melupakan Taeyang. Kemudian ia membuka buku doraemon miliknya. Dan menggoreskan tulisan di dalamnya. Buku doraemon itu adalah buku yang selalu mendengarkan setiap ceritanya. Baik sedih senang ataupun marah, buku yang dipanggil domon olehnya itu selalu mendengarkan kisah-kisahnya.

Domon~ annyeong.. aku mau cerita lagi sekarang ini. Domon, aku benar-benar galau. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Jujur aku masih saying dan cinta padanya. Tapi entah kenapa aku menghindarinya. Aku selalu mengingat hari dimana aku meninggalkannya setiap aku melihat wajahnya. Domon~ kamu masih ingat kan. Hari dimana aku pergi meninggalkan dia. Domon, kamu ingat kan dulu dia benar-benar cuek padaku. Aku hanya ingin dia lebih peduli padaku. Tapi ternyata dia tidak juga memberikannya. Alhasil aku mendapatkan perhatian lebih dari sobatku Ji Hoon. Ji Hoon yang selalu menemaniku, dan mendengarkan ceritaku. Tapi ternyata Young Bae salah sangka dan menuduh aku selingkuh. Entah kenapa aku tidak terima dituduh seperti itu. Karena itu aku meminta untuk berpisah. Tapi ternyata sulit untuk menerima kalau aku dan dia sudah tak ada hubungan. Domon, aku tak tahu harus bagaimana. TT____TT

Sun Li menutup bukunya, dan kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur. Ponselnya tak lagi ada di sisi bantalnya. 2 hari lalu, Sun Li dirampok, dan ponselnya yang ada di dalam tas sukses lenyap. Setelah dilaporkan ke polisi, rampok itu tak juga ditemukan. Akhirnya Sun Li tak lagi memegang ponsel. Dirinya rasanya sudah malas untuk punya ponsel. Meskipun memang merepotkan kalau harus menggunakan telepon umum. Tapi setidaknya ini menghemat uangnya untuk sementara. Sun Li menyalakan radio, dan mendengarkan beberapa lagu yang sedang diputar. Tanpa sadar air matanya kembali menetes saat radio tersebut memutar lagu Tell Me Goodbye. Tapi kemudian ia tertidur lelap.

2 weeks later , 2 Desember, at 10.00 am

“TADAAA!” Hyun Ri memberikan bungkusan kado pada Sun Li. 2 Desember memang hari ulang tahun Sun Li, tapi tidak terlalu dirayakan besar-besar. *yaiyalah ngapain gede’’ kaya anak kecil aja*
“Gumawo Hyun Ri-ya!” Sun Li memeluk sahabatnya itu.
“Cheonmane Sun Li-ya” Hyun Ri balas memeluk Sun Li. tapi tak lama, mereka berdua dipisahkan oleh Seungri.
“Heh, jangan lama-lama. Dia milikku” kata Seungri sambil kemudian merangkul Hyun Ri. Sun Li hanya memasang muka mengejek pada oppa nya itu.
“Happy B’day” kata Ji Hoon sok inggris mengucapkan selamat pada Sun Li. kemudian Ji Hoon memberikan bungkusan besar.
“Apa isinya?” tanya Sun Li penasaran.
“Buka saja.” Kata Ji Hoon tersenyum. Sun Li segera membuka bungkusan itu. Dan matanya sontak terbelalak. Wajahnya menyunggingkan senyum sumringah. Ji Hoon memberinya boneka doraemon yang besar. Sun Li benar-benar bahagia. Karena selama ini dia tidak sempat untuk membeli boneka doraemon sebesar itu. Saking bahagianya, Sun Li memeluk Ji Hoon.
“Ji Hoon-ah !! Jeongmal Gumawoyo!!” Sun Li benar-benar girang saat itu. Tapi kemudian Hyun Ri melempar bantal pada Sun Li.
“Omo~ buka juga kado dariku.” Kata Hyun Ri sambil menunjukkan muka memelasnya pada Sun Li. Sun Li hanya tersenyum dan membuka kado dari Hyun Ri. Sekarang Sun Li benar-benar tidak bisa berbicara. Hyun Ri memberinya ponsel baru. Ponsel yang benar-benar diinginkannya. LG Cyon Lollipop. Sun Li melihat ke arah Hyun Ri. Hyun Ri hanya tersenyum dan membentuk tangannya menjadi huruf V (baca : peace). Sun Li memeluk erat sahabatnya itu.
“gumawo gumawo! Jeongmal gumawoyo!!” kata Sun Li sambil memeluk Hyun Ri.
“Ehem. Itu patungan denganku loh.” Seungri yang merasa di anaktirikan oleh adiknya, hanya bisa berdeham. Sun Li tersenyum pada oppa nya dan kemudian memeluk erat oppanya.
“Nomornya juga masih sama dengan milikmu yang dulu. Jadi kau tidak usah repot-repot lagi ganti nomor.” Kata Hyun Ri menjelaskan.
“Ne. Jeongmal gumawoyo chingu.” Kata Sun Li yang memeluk kedua sahabatnya.

8.30 pm at Sun Li’s room

Sun Li kembali ke kamarnya setelah selesai makan malam. Ia berniat mengoprek-oprek ponsel barunya. Ia berbaring di tempat tidur sambil memeluk boneka doraemonnya yang besar.kemudian membuka ponselnya, ada 5 misscall. Dari Taeyang.

8.30 pm at Taeyang’s apartement

Berkali-kali aku menghubunginya tapi tak juga ada jawabannya. Entah kenapa aku benar-benar merindukannya. Hari ini ulang tahunnya. sudah dari siang tadi aku menghubunginya tapi tak kunjung ada jawaban. Aku benar-benar ingin mendengar suaranya. Aku menghubunginya lagi. Speed dial nomor 1. 3x nada sambung.
“Annyeong?” tanya yeoja di seberang sana. Taeyang tahu betul itu suara Sun Li.
“Sun Li-ya” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Taeyang
“Ne? Waeyo Young Bae-ya?” Taeyang kaget sekaligus senang karena akhirnya yeoja itu mau memanggil namanya. Saking senangnya, taeyang sampai tak dapat berkata apa-apa.
“Young Bae-ya?” tanya Sun Li yang bingung di seberang sana.
“Ne. Sun Li-ya. Bisakah kau datang ke taman dekat rumahmu sekarang? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” tanya Taeyang dengan suara bergetar. Sun Li tampak lama menjawabnya. Mungkin sedang berpikir.
“Ne. mungkin 15 menit lagi aku kesitu.” Jawab Sun Li akhirnya. Kemudian telepon ditutup. Taeyang bergegas mengganti bajunya dan mengambil kado yang sudah ia siapkan sejak seminggu lalu. Dan bergegas pergi ke tempat ia akan memperbaiki semuanya.

At park, 8.45 pm

Taeyang berlari dan akhirnya sampai di taman itu. Ia melihat Sun Li sudah menunggunya. Senang campur terharu, ia tidak menyangka kalau Sun Li benar-benar akan datang. Sun Li yang juga menyadari ada yang datang, menoleh ke arah Taeyang. Sun Li sendiri terlihat bingung mau bicara apa.
“Sun Li-ya, saengil chukae hamnida” kata Taeyang seraya memberikan kotak kado pada Sun Li.
“Hee.. jeongmal gumawoyo.” Sun Li menerimanya.
“Bukalah” pinta Taeyang padanya. Sun Li menurut dan membuka kotak itu. Ia kaget. Ini adalah kalung yang paling ia inginkan sejak sebulan lalu. Tapi karena harganya yang selangit, Sun Li pun harus rela untuk tidak membelinya.
“Aku tahu kau ingin kalung ini sejak sebulan lalu. Karena itu aku kerja sampingan selama sebulan lebih untuk membelikannya saat ulang tahunmu. Kau suka?” tanya Taeyang pada Sun Li yang masih meratapi hadiah pemberiannya itu. Sun Li hanya mengangguk dan tersenyum bahagia. Kemudian Taeyang memegang kedua pipi Sun Li dengan kedua tangannya.
“Sun Li-ya” kata Taeyang sambil menatap dalam-dalam ke mata Sun Li yang bulat. *MAKJAN! PINGSAN GW ! DON’T LOOK AT ME LIKE THAT !! XD*
“Jeongmal saranghaeyo. Aku tak bisa kehilanganmu. Aku janji tidak akan menyakitimu. Selamanya aku mencintaimu.” Taeyang menyenderkan kepala Sun Li ke dadanya, dan memeluk yeoja itu erat-erat. *aduh mak! Aku bisa mati berdiri tuh! XDD*
Sun Li sekarang tidak tahu harus berbicara apa. Jujur dia bahagia.
“Young Bae-ya” panggil Sun Li
“Ne?” jawab Taeyang sambil masih memeluk yeoja itu.
“Nado sarangheyo” jawab Sun Li dan kemudian balas memeluk namja itu. Taeyang sudah tidak bisa menahan kebahagiaannya.
“Hee. Kau tidak mau memakai kalungnya?” tanya Taeyang kemudian.
“Aniyo. Sayang kalau dipakai. “ kata Sun Li dengan senyum polosnya. Taeyang kemudian memperlihatkan muka memelasnya *puppy face*. Sun Li benar-benar tidak bisa kalau berhadapan dengan puppy face namja itu.
“Ne. akan kupakai.” Kata Sun Li kemudian. Kemudian Sun Li mengeluarkan kalung itu dari dalam kotaknya, tapi saat mau memakai, Taeyang mencegahnya.
“Kalau soal memakaikan , itu urusanku” kata Taeyang sambil tersenyum. Sun Li uti kata-katanya dan menyerahkan kalung itu pada Taeyang. Dan kemudian Taeyang memakaikan kalung itu di leher Sun Li. Setelah memakaikannya, seketika ia mendaratkan ciuman manis di bibir Sun Li. Sun Li kaget, tidak percaya kalau namja itu akan melakukannya. Kemudian Taeyang memeluk Sun Li lagi.
“Jeongmal sarangheyo jagi.” Kata Taeyang sambil tetap memeluk yeoja itu. Sun Li tidak berkata apa-apa, hanya memeluk namja itu erat-erat. Well beb, let’s start again our relationship from the beginning.

END—

YA ! selesai sudah . bikin begadang .. ampe lupa tidur .. sudah begitu ceritanya geje pula .. ==”
Plis RCL thx~ ^^,

Advertisements
Categories: oneshoot, oneshoot | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.