Posts Tagged With: Choi Minhwan FT.Island

Oppa ! Please Look At Me! [end]

AUTHOR : Choi Sun Li a.k.a Sasha
TITLE : Oppa ! Please Look At Me !

CAST :
Choi Sun Li a.k.a Author
Song Hyun Ri a.k.a Siska
Dong Young Bae a.k.a Taeyang Bigbang
Yuri SNSD
Choi Min Hwan a.k.a Minhwan FT Island

Yak sodara sodari … akhir kata saya ucapkan , selamat menikmati (?) ..
Please fasten your seatlbelt, and ready your popcorn XD
Continue reading

Advertisements
Categories: chapter | Tags: , , , | Leave a comment

Oppa! Please Look At Me! [part1]

AUTHOR : Choi Sun Li a.k.a Sasha
TITLE : Oppa ! Please Look At Me !

CAST :
Choi Sun Li a.k.a Author *eksis selalu.. * *PLAK*
Song Hyun Ri a.k.a Siska *my bebh eksis lagi* *PLOK*
Dong Young Bae a.k.a Taeyang Bigbang *akhirnya suami gw eksis lagi XD*
Yuri SNSD
Choi Min Hwan a.k.a Minhwan FT Island

Yak sodara sodari … akhir kata saya ucapkan , selamat menikmati (?) ..
Please fasten your seatlbelt, and ready your popcorn XD
Continue reading

Categories: chapter | Tags: , , , | Leave a comment

The Missing Princess

Author : Choi Sun Li a.k.a Sasha
Title : The Missing Princess

Cast :
– 4minute member
– Choi Sun Li a.k.a Author
– Choi Min Hwan a.k.a Minhwan FT.Island
– Jang Geun Seok

Yak maka dari itu sodara sodari setanah air .., akhir kata saya ucapkan , please fasten your seatbelt and ready your popcorn .. 😀
And the story begins …

Dahulu , di suatu daerah di Korea Selatan. Tampak suatu desa dengan istana yang memimpin desa tersebut. Dari yang dilihat, desa tersebut sangat asri dan penduduknya juga sejahtera. Di istana yang memimpin desa tersebut, tampak 5 orang puteri yang sedang bersama-sama. Ji Hyun sebagai puteri yang paling tua di antara sodara-sodaranya, hanya memperhatikan saeng-saengnya, sambil membaca buku.
“chingudeul ! ayo ayo diicip kueku yang baru.” Seru Ji Yoon yang keluar sambil membawa senampan kue kering yang masih hangat.
“Omo! Onni buat kue baru lagi.” Seru Hyuna sambil mendatangi Ji Yoon.
“Ayo ayo, fresh from the oven.” Kata Ji Yoon sambil menawarkan kepada sodara-sodaranya itu. Hyuna lah yang mencomot paling banyak.
“Mhemang, kuhe vikinan honnie yang valing henak (memang kue bikinan onnie yang paling enak)” kata Hyuna dengan mulut penuh kue dan mengancungkan kedua jempolnya. Yang lain hanya tertawa kecil melihat tingkah laku sodaranya itu. Tiba-tiba di sela canda tawa mereka, datanglah seorang pesuruh. Ia menundukkan kepalanya,
“Permisi para Tuan Puteri, Yang Mulia memanggil anda.” Kata pesuruh itu mengabarkan.
“Ne, gomawo. Katakan pada Ayah, kami akan segera kesana.” Jawab Gayoon. Kemudian pesuruh itu membungkukkan badannya tanda mengerti dan bergegas pergi menemui Ayah kelima puteri itu.
“Kira-kira ada angin apa Ayah tiba-tiba memanggil kita semua?” Tanya Sohyun pada ke empat onnie nya. Yang lain hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.

di ruang Raja

Ji Hyun, Gayoon, Ji Yoon, Hyuna, dan So Hyun. Duduk bersimpuh di depan Ayah mereka sebagai tanda hormat mereka.
“Puteri-puteriku,” sang Raja mulai berbicara, dan dengan seketika kelima puteri itu menyimak baik baik apa yang akan dikatakan Ayahanda mereka.
“alasanku memanggil kalian semua kemari adalah, karena demi memperkuat kerajaan, Ayah memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan kerajaan tetangga.” Kata Raja menjelaskan. Kelima puterinya hanya diam dan mendengarkan.
“Jadi, untuk itu kalian, emm maksudku, 2 dari kalian akan menikah dengan pangeran dari Kerajaan yang akan menjalin kerja sama dengan kita.” Kata Raja melanjutkan, seketika wajah Hyuna dan SoHyun kaku. Sedangkan ketiga onnie mereka sudah menyadari kalau Raja akan berkata seperti itu.
“arraseo?” Tanya Raja kemudian
“Ne, arraseo” jawab mereka berlima serempak Kemudian Raja memperbolehkan mereka kembali ke istana mereka. Dan merekapun beranjak pergi setelah membungkuk memberi hormat pada Ayahanda mereka.

Sementara itu di tempat lain, ada kereta kuda yang sedang berjalan menuju ke Istana para Puteri itu

“Hyung, menurutmu apa para puterinya cantik cantik?” Tanya minhwan pada kakak sepupunya.
“Aku tidak tahu.” Jawab Geun Seok pendek. Raut wajahnya seakan ia sedang sangat kesal. Minhwan tahu kakak sepupunya itu tidak mau diganggu kalau sedang kesal akhirnya dia hanya memandang keluar jendela menikmati pemandangan yang asri desa itu. Tak jarang panduduk yang menyapa dirinya, dan ia membalas menyapa para penduduk itu. Tiba-tiba, kereta kuda berhenti mendadak dan Minhwan terlonjak jatuh,
“Aigo! Ada apa ini??” Tanya Geun Seok pada kusir yang berada di luar. Minhwan hanya menggaruk garuk kepalanya yang tadi terbentur. Geun Seok turun dan mendapati seorang yeoja berumur sekitar 15 tahun sedang memarahi kusir keretanya itu.
“Hey kau! Sedang apa kau??” Tanya Geun Seok marah. Yeoja itu menoleh padanya dan memperlihatkan muka marahnya. Ia mendatangi Geun Seok, dan balik memarahi Geun Seok.
“Heh. Seharusnya aku yang marah padamu. Keretamu ini nyaris saja menabrak anak kecil. Jika tidak kuselamatkan anak itu, mungkin dia sudah tak bernyawa lagi sekarang. Tolong kalau lain kali mau berpergian dengan kereta,pelankan sedikit kecepatanmu. Disini pedesaan, banyak orang lalu lalang.” Kata yeoja itu kemudian berbalik dan pergi. Minhwan yang memperhatikan dari dalam kereta, sedikit takjub mendapati ada yang berhasil memarahi kakak sepupunya. Kemudian Geun Seok masuk ke kereta dengan wajah yang tambah ditekuk. Kekesalannya bertambah sekarang dan minhwan hanya dapat diam saja.

Akhirnya kedua pangeran itu sampai juga di Istana yang dituju. Mereka berdua diantar menuju ke ruang Raja. Di ruang Raja, mereka disambut dengan baik oleh Raja.
“Perkenankan saya untuk mengenalkan putri-putri saya.” Kata Raja. Kemudian Jihyun dan ke empat saengnya datang memasuki ruangan dengan anggun.
“putriku yang tertua, Ji Hyun, kemudian Gayoon, Ji Yoon, Hyuna, dan putriku yang paling muda, Sohyun” kata Raja sambil memperkenalkan putri-putrinya.
Geun Seok mengobrol dengan Raja, sedangkan minhwan mengedarkan pandangannya ke arah tiap sudut ruangan tersebut. Banyak foto disitu. Geun Seok ikut mengedarkan pandangan dan matanya tertuju pada satu foto pasangan.
“Mianheyo, kalau saya boleh tahu, siapakah yang terdapat di foto itu?” Tanya Geun Seok pada sang Raja.
“Ohh. Itu adikku bersama istrinya. Sayang mereka sudah tidak ada. Mereka meninggal saat terjadi pemberontakan dulu. Istana mereka dibakar. Bahkan jasad anak merekapun tidak dapat ditemukan.” Jelas sang Raja. Geun Seok hanya manggut, minhwan yang ikut mendengarkan cerita Raja hanya merasa kasihan.
“Anak? Jasad anak mereka tidak ditemukan…” batin Geun Seok. Dirinya masih memandang lekat-lekat foto itu. Entah kenapa ia merasa pernah bertemu seseorang yang mirip dengan adik Raja (tebak sapa adik raja itu.?? XD)
“Yang Mulia, bolehkah aku berkeliling Istana?” Tanya Minhwan kemudian.
“Ohh silahkan, apa kau perlu pendamping?” Tanya Raja kemudian.
“Aniyo, aku lebih suka berpetualang sendiri.” Jawab Minhwan kemudian ia membungkuk hormat dan pergi dari tempat itu.

“ahjumma!!” teriak seseorang. Minhwan merasa pernah mendengar suara itu. Saat ia menoleh ke asal suara, benar saja, ia mendapati yeoja yang tadi memarahi hyungnya.
“Sun Li-ya, untuk kau datang tepat waktu. Ini untuk makan siangmu dan makan malam. Cepat kembali ke rumah sebelum penjaga melihatmu.” Kata seorang wanita paruh baya sambil menyerahkan bungkusan yang sepertinya berisi makanan pada yeoja yang ternyata bernama Sun Li itu.
“Ne. Gumawo ahjumma.” Kata Sun Li sambil kemudian berlari ke arah semak yang ada di dekat tembok benteng. Minhwan penasaran dan mengikuti yeoja itu. Ternyata eh ternyata, dia menemukan ada sebuah lubang ia mencoba merangkak dan masuk ke lubang itu. Dan ternyata lubang itu tersambung ke bagian luar istana. Minhwan menoleh kesana kemari mencari sosok yeoja itu. Dan mendapati yeoja itu sedang berlari ke arah hutan. Tanpa basa basi, minhwan pun mengikutinya. Tapi tak disangka-sangka, ia kehilangan jejak yeoja itu saat sampai di tengah hutan.
“Ya! Siapa kau??” Tanya yeoja itu yang ternyata sudah berada di belakang minhwan. Minhwan kaget bukan main. Dirinya nyaris terlonjak.
“Kutanya siapa kau?? Pakaianmu terlihat seperti orang kerajaan.” Tanya Sun Li yang menilainya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Cho-Choi Min Hw-Hwan imnida” jawab Minhwan akhirnya. Entah kenapa karena kaget, mendadak bicaranyapun jadi gagap. Sun Li hanya menatapnya bingung.
“Hoo. Panggil aku Sun Li.” Jawab Sun Li sambil tersenyum. Minhwan menatap Sun Li lekat-lekat.
“Aku rasanya pernah melihatmu entah dimana.” Kata Minhwan kemudian.
“Hahaha. Banyak yang bilang aku mirip dengan adik Yang Mulia Raja. Semua dayang di istanapun berkata begitu.” Jawab Sun Li kemudian.
“Apa kau masih ada darah dengan keluarga kerajaan?” Tanya Minhwan kemudian.
”Entahlah. Sejak kecil aku tidak ada orang tua. Ahjumma ku yang bekerja di istanalah yang merawatku.” Jawab Sun Li kemudian. Minhwan hanya manggut-manggut tanda mengerti. Di sudut hati Minhwan, ia merasa simpati pada yeoja itu. Dan berusaha ingin membantunya untuk menemukan asal usulnya.
“Sun Li-ssi, aku punya ide, bagaimana kalau kubantu kau menemukan asal usulmu?” Tanya Minhwan kemudian. Sun Li menatapnya bingung.
“Menurutku bagus kalau kau bisa tahu siapa orang tuamu sebenarnya. Kita bisa mulai dari keluarga kerajaan.” Kata Minhwan dengan mata berbinar-binar. Sun Li tertawa mendengar perkataannya.
“Hahaha. Rasanya hanya untung-untungan kalau aku adalah keluarga kerajaan. Sejak kecil aku tumbuh di dunia luar. Tidak akan cocok dengan kerajaan.” Kata Sun Li di sela-sela tawanya.
“Apa salahnya dicoba?” Tanya Minhwan memaksa. Sun Li hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah namja itu.
“Yahh… boleh lah kalau begitu. Gomawo sudah bersedia membantu.” Jawab Sun Li yang menyerah karena sepertinya Minhwan semangat sekali melakukannya.
“Omo! Langitnya sudah jadi jingga. Sebaiknya aku cepat pulang.” Kata Minhwan kemudian.
“Ne. sampai ketemu lagi Sun Li-ssi.” Seru Minhwan sambil melambaikan tangannya dan berlalu. Sun Li hanya membalas lambaian tangannya dan bergegas kembali ke rumahnya yang ada di balik hutan itu. Di Istana, Minhwan dimahari habis-habisan oleh hyungnya karena menghilang dan baru pulang sore hari (kesian minhwan Q__Q).

Esoknya~

Minhwan mendatangi ruang Raja. Di depan pintu ia mengatur napas dan kemudian mengetuk pintu geser itu.
“Ne, silahkan masuk.” Kata Raja dari dalam ruang itu.
“Annyeonghaseyo” sapa minhwan kemudian.
“Ohh, Pangeran Minhwan, ada perlu apa?” Tanya Raja itu dengan penuh senyum.
“Begini Yang Mulia, saya ingin tahu lebih lanjut soal cerita adik anda.” Tanya Minhwan dengan sedikit takut. Raja diam sebentar, kemudian mengehela napas berat.
“Jadi, adikku itu… “ Raja mulai bercerita

flashback masa lalu Raja
Saat itu, adalah saat yang menyenangkan dimana semua keluarga berkumpul. Istri adik Raja baru saja melahirkan anak perempuannya. Semua keluarga besar kerajaan merayakan kebahagiaan itu bersama-sama. Tapi saat malam dimana seharusnya semua orang terlelap, ternyata ada pemberontak yang menyelinap masuk dan menjadikan istana tempat adik Raja tinggal sebagai sasaran bakar. Adik raja yang malam itu merasakan suhu memanas dan mencium bau asap segera membangunkan istrinya. Istrinya dengan segera menggendong anaknya yang mulai menangis karena sesak napas akibat asap.
“Yang Mulia kemari cepat kemari!” teriak salah seorang dayang.
“Tolong, selamatkan anakku.” Pinta Istri dari adik Raja itu pada dayangnya. Dayang itu menurut dan berlari keluar sambil memeluk bayi perempuan itu. Setelah berhasil sampai diluar dan menyerahkan bayi tersebut pada dayang yang lain, dan bermaksud kembali untuk menyelamatkan orang tuanya, tiba-tiba Istana tersebut rubuh dilalap api. Bayi it uterus menerus menangis, tetapi diikuti pula dengan dayang yang lain, begitu malang nasib bayi kecil itu yang harus kehilangan kedua orang tuanya begitu cepat. Dayang tersebut memutuskan untuk merawat anak itu dan tak pernah sekalipun memberi tahu siapa sebenarnya anak itu.

Minhwan mendengarkan dengan baik cerita sang Raja. Yang ia dapatkan adalah, kalau Raja sebenarnya mempunya keponakan perempuan yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.
“hmm.. jeongmal gomawoyo Yang Mulia sudah meluangka waktu anda untuk menceritakannya.” Kata minhwan sambil pamit dan keluar dari ruang itu. Di depan pintu, ia masih berpikir.
“Mungkinkah?” batin Minhwan.
“Minhwan-ssi” panggil seseorang, Minhwan menoleh dan mendapati Sohyun memanggilnya,
“kau ada perlu apa dengan Ayahanda?” Tanya Sohyun kemudian.
“Ah.. tidak kok, tidak apa-apa. A-aku pergi dulu ya.” Kata Minhwan kemudian sambil berlalu. Kakinya melangkah menuju ke tempat para dayang-dayang memasak. Matanya mencari-cari sosok ahjumma Sun Li. BINGO ! dia mendapatkan ahjumma Sun Li sedang membawa seikat daun bawang.
“Annyeonghaseyo” sapa Minhwan kemudian.
“A-Annyeonghaseyo Yang Mulia” jawab wanita paruh baya itu.
“Ada yang ingin kutanyakanpada anda.” Kata Minhwan kemudian.
“Ohh, silahkan. “ jawab wanita paruh baya itu kemudian menaruh seikat daun bawang itu.
“Begini, anda ahjumma Sun Li kan?” Tanya Minhwan kemudian, pertanyaan itu tidak membuat shock wanita paruh baya itu. Pasti karena Sun Li sudah bercerita banyak hal.
“Iya memang betul. Sepertinya kau sudah banyak tahu akan masa lalu Sun Li ya?” jawab ahjumma kemudian. Minhwan hanya mengangguk.
“Apa saja yang Yang Mulia Raja ceritakan padamu?” Tanya ahjumma dengan senyum lembutnya, Minhwan kemudian menceritakan semua yang diceritakan oleh Raja.
“Dan apa kesimpulan yang dapat kau ambil dari cerita itu?” Tanya ahjumma itu lagi.
“Aku hanya berpikir mungkin saja Sun Li adalah keponakan Raja yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.” Jawab Minhwan kemudian. Ahjumma itu hanya mengangguk.
“ Tentu saja. Yang tahu asal usul Sun Li hanya dayang-dayang disini. Dan kami sepakat untuk tidak memberi tahu Raja, karena kami ingin ia dapat merasakan kebebasan. Menjadi seorang puteri adalah tugas yang berat. Sudah cukup ia merasakan kesengsaraan karena kehilangan orang tua, lagipula, di istana ini, peraturannya cukup keras, kami tidak ingin ia disbanding-bandingkan oleh para tetua karena tidak punya orang tua.” Jawab ahjumma itu kemudian. Tak disangka-sangka, para dayang disini begitu menyayangi Sun Li. Mereka tidak ingin gadis itu merasakan luka hati yang lebih parah. Kehilangan orang tua saja sudah sakit. Janganlah ditambah dengan disbanding-bandingkan dengan para putri Raja.
“Lalu, apa anda pernah memberi tahu nya soal orang tuanya?” Tanya Minhwan.
“iya, aku sudah pernah memberi tahunya, saat dia sudah cukup umur dan mulai mempertanyakan soal orang tuanya, aku menjawab jujur kalau orang tuanya sudah tidak ada. Awalnya memang dia tidak terima tapi lambat laun dia dapat menerimanya.” Jelas ahjumma
“ohh.. Jeongmal gumawoyo ahjumma…” kata Minhwan sambil berterima kasih dan kemudian berlari ke arah tempat biasa Sun Li keluar masuk Istana. Lubang rahasia itu.
“MINHWAN !!!!” teriak Geun Seok dan sukses membuat Minhwan diam terpaku.
“KAU INI DARI KEMARIN KELUYURAN TERUS!! JANGAN BUAT O-“ belum selesai Geun Seok memarahi dongsaengnya itu, tampak Sun Li yang berlari ke arah tempat berkumpulnya para dayang. Geun Seok yang masih kesal karena waktu itu dimarahi oleh bocah macam dia, mengejar gadis itu diikuti oleh Minhwan.
“Ahjumma” teriak Sun Li memanggil ahjumma nya.
“Hey kau!!” Geun Seok berteriak memanggil Sun Li. Sun Li menoleh karena merasa dirinya lah yang dipanggil dan mendapati namja yang saat itu ia marahi di kereta kuda.
“Ohh. Kau.. ada perlu apa denganku?” Tanya Sun Li dengan tampang malas meladeni orang ini.
“Kau kan orang biasa, bagaimana bisa kau masuk kemari?? Penja-“ belum beres Geun Seok berteriak memanggil penjaga, Minhwan dengan segera membekap mulut hyungnya itu.
“Sun Li-ssi, cepat lari!” perintah Minhwan. Sun Li dengan cepat menurut dan menghilang di balik semak-semak.Geun Seok melepaskan bekapan dongsaengnya dengan paksa.
“Pabo! Apa yang kau lakukan??” Tanya Geun Seok tidak terima.
“Sudahlah hyung. Hyung hanya sedikit stress karena jauh dari rumah. Sebaiknya hyung istirahat. Oke oke?” jawab Minhwan sambil mendorong hyungnya itu kembali ke kamarnya. Setelah sukses ‘menyingkirkan’ hyungnya, Minhwan menemui ahjumma Sun Li, dan bersedia membantu untuk mengantarkan makanan Sun Li.

Di rumah, Sun Li hanya terduduk diam dalam keadaan perut keroncongan.
“Aku lapaaaar~” kata Sun Li lemas.
“Ini makanan.” Kata Minhwan kemudian sambil menempelkan bungkusan kain itu di pipi Sun Li. Sun Li kaget setengah idup, dan terlonjak jatuh.
“Aigo!! Minhwan-ssi, kau bikin jantungan saja.” Protes Sun Li. Minhwan hanya membalasnya dengan tertawa.
“Sun Li-ssi, sepertinya aku tahu siapa orang tuamu.” Kata Minhwan kemudian.
“Gu-Gurae??” Sun Li balik bertanya. Minhwan hanya mengangguk mengiyakan.
“Mereka memang sudah tidak ada. Tapi setidaknya kau ada sanak saudara. Seminggu dari sekarang akan kubawa kau kesana.” Jawab Minhwan kemudian. Sun Li senangnya bukan main karena bisa bertemu dengan keluarganya.
“Gomawo !! Jeongmal gomawoyo!!” seru Sun Li kemudian dan langsung memeluk Minhwan. Wajah Minhwan seketika memanas dan memerah macam kepiting rebus.

At the Palace

“Hyung~” sapa Minhwan pada Geun Seok.
“Wae?” jawab Geun Seok singkat.
“Bagaimana Sun Li menurutmu?” Tanya Minhwan.
“Ha? Gadis desa itu? Menyebalkan, tidak tahu sopan santun , sok jago.” Jawab Geun Seok *author tabok i-jang pake baskom*
“Pabo kau hyung ! maksudku bukan sifatnya. Tapi coba kau ingat-ingat lagi dan bandingkan wajahnya dengan Adik Raja.” Jawab Minhwan kemudian. Protes karena Sun Li diejek habis-habisan oleh hyungnya. Geun Seok tampak berpikir, dan mendapatkan sesuatu.
“Iya, dia memang sangat mirip dengan adik Raja.” Jawab Geun Seok kemudian.
“Iya kan?? Berarti aku betul!!” jawab Minhwan, kemudian ia pergi keluar kamar. Meninggalkan Geun Seok yang menatapnya dengan tatapan beribu pertanyaan. Minhwan berlari menyusuri koridor istana, dan bertemu dengan Sohyun.
“So Hyun-ssi, aku punya permintaan.” Kata Minhwan kemudian.
“Ne?” Tanya Sohyun bingung.
“Aku ingin pinjam pakaian dan juga sepatumu.” Jawab Minhwan kemudian. Sohyun semakin bingung dengan apa yang akan dilakukan Minhwan, tapi ia menurut saja, dan memberikan pakaian dan juga sepatunya yang sudah lama tidak ia pakai alias bekas.

1 week later

Geun Seok dan para putri sudah berkumpul di ruangan Raja.
“Pangeran, siapakah putriku yang akan kau pilih untuk menjadi pendampingmu?” Tanya Raja kemudian.
“Sepertinya saya akan memilih Hyuna-ssi” jawab Geun Seok sambil menyungginggkan seutas senyum di wajah judesnya *author dihajar i-jang*
“lalu, mana adikmu?” Tanya Raja kemudian.
“Ngg.. saya tidak tahu Yang Mulia, tadi pagi ia pergi duluan katanya ada urusan penting.” Jawab Geun Seok.
Tak lama, pintu geser itu terbuka.
“Yang Mulia, mianheyo saya terlambat.” Sapa Minhwan sambil membungkukkan badannya tanda hormat.
“Saya, sudah memutuskan, saya akan memilih keponakan anda sebagai calon istri saya.” Kata Minhwan kemudian. Dan dijawab dengan tatapan bingung sang Raja.
“Keponakan? Apa maksudmu??” Tanya Raja kemudian.
“Ayo masuk.” Minhwan memberi tanda pada Sun Li agar segera masuk. Kemudian Sun Li masuk ke ruangan itu. Penampilannya benar-benar berubah 180 derajat. Sekarang ia tampak lebih anggun. Sejujurnya dia malu, tapi para dayang yang mendandaninya memberinya semangat. Raja yang melihatnya benar-benar bengong bukan main.
“Kau? Benar-benar mirip dengan adikku.” Kata Raja kemudian, dan memberi tanda agar Sun Li mendekat.
“Wajahmu ini benar-benar mengingatkanku akan adikku. Mata kalian mirip.” Kata Raja sambil mengelus wajah Sun Li
“Siapa namamu?” Tanya Raja untuk meyakinkan.
“Cho-Choi Sun Li.” Jawab Sun Li gugup. Kemudian Raja memeluknya.
“Minhwan-ssi, kau benar dia memang keponakanku.” Jawab Raja kemudian.
“Dayang !!” panggil Raja pada dayang-dayangnya.
“ya Yang Mulia?” jawab para dayang segera.
“Siapkan makan malam yang mewah, kita sambut kembalinya puteri yang hilang selama 15 tahun.” Perintah sang Raja kemudian.

FIN~

Maap yahhh kalo agak aneh … oiaaa, ayo ayo ditebak , sapa adiknya raja?? Yang bisa nebak hebat XD
Please RCL .. gumawo ~ XD

Categories: oneshoot | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.